Haloooo!

Udah lama banget ternyata gue nggak ngepost blog lagi. Jadi setelah 6 bulan pernikahan gue, alhamdulillah gue mendapat anugerah yang nggak ternilai harganya yaitu positif hamil!

Intermezo sedikit. Enam bulan bukan waktu yang cukup cepat dalam mendapat kehamilan, jadi gue sempat tuh mengalami masa-masa dimana gue sediih banget karena pernah seharian ada 5 orng lebih yang basa basi nanya “kok belum isi sih?”. Percayalah, rasanya lebih sedih dibanding waktu gue masih jomblo dan ada yang basa basi tanya “kapan punya pacarnya nih?”. Jadi, gue pun berjanji dalam hati bahwa gue nggak akan bertanya pertanyaan basa basi seperti “udah isi belum?” atau “ayooo doong semangat, masa kalah sama si anu” kepada teman yang belum punya pacar, belum nikah, atau belum hamil. Karena kita nggak tahu usaha apa yang sudah mereka lakukan di balik semua itu dan kesedihan yang mereka alami diam-diam.

Okee, back to the topic.

Di tahun 2010, gue mendapat info kalau gue diterima kerja di kantor gue sekarang tepat di hari ultah. Dan di tahun 2016, gue pun mengetahui kalau gue hamil tepat di hari ulang tahun. Saat itu ternyata gue udah hamil sekitar 4 minggu. Saat pertama sebelum ke dokter, gue hanya coba pakai test pack, tapi hasilnya adalah garis pertama sangat jelas, sedangkan garis ke-2 samar-samar. Disitulah gue cukup galau dan konsul ke kakak. Kakak gue bilang 90% hamil, dan dia kasih advice untuk segera periksa ke dokter obgyn. Dan, sebelum yakin benar kalau hamil, kita harus mengasumsikan bahwa kita sedang hamil supaya kita menjaga gerak tubuh dan asupan makanan kita (tapi juga jangan terlalu ngarep supaya nggak kecewa kalau ternyata belum hamil ya).

Saat ini, gue sudah hamil 37 weeks, kalau diconvert sekitar 9 bulan. Jadi inilah sharing-sharing singkat cerita gue selama kehamilan dari bulan ke bulan:

Bulan 1

Biasanya di waktu-waktu ini, kita belum ngeh kalau sedang hamil karena hampir nggak ada gejala yang timbul. Biasanya kita sadar kalau sedang hamil setelah merasa bahwa jadwal menstruasi terlambat dan cek melalui test pack.

Hal pertama yang gue lakukan adalah langsung install aplikasi pregnancy di android. Aplikasi ini berguna untuk memonitor usia bayi, berat bayi normal, dan informasi-informasi seputar kehamilan yang disesuaikan dengan usia kandungan. Sangat berguna deh pokoknya! Aplikasi favorit gue adalah Pregnancy dan Pregnancy +.

WhatsApp Image 2017-07-11 at 07.27.05
Hasil testpack yang kedua kalinya, seminggu setelah hasil yang samar-samar

Bulan 2

Gue sendiri pun nggak merasakan gejala apapun saat hamil di bulan pertama. Setelah jadwal menstruasi terlambat dan hasil testpack yang samar-samar nggak jelas itu, gue dan suami pun mendatangi dokter obgyn. Gue bukan tipikal yang benar-benar detail dan harus perfect dalam memilih dokter sehingga gue waktu itu capcipcup aja datengin RS, lalu pilih dokter yang sedang praktik saat itu. Untuk RS-nya, gue dan suami memilih RS Premier Jatinegara karena relatif dekat dengan rumah dan RSnya cukup bagus menurut kami. Untuk dokter obgynnya, gue konsultasi ke dr. Frans Putuhena.

Dr Frans Putuhena adalah dokter yang sudah senior dan pintar menurut gue. Jadi, di bulan ke-1 biasanya kantung janin belum jelas terlihat (tergantung kondisi masing-masing ibu sih) sehingga dokter obgyn biasanya merekomendasikan untuk USG transvaginal (USG melalui vagina, yaitu vagina dimasukkan sejenis benda panjang). Untungnya dr Frans bisa mendeteksi kantung janin gue lewat USG perut biasa. “Ini hamil nih, nggak terbantahkan lagi. Ini kantung hamilnya”, kata dr Frans pertama kali saat melakukan USG. Saat itu gue ternyata sudah hamil 5 minggu.

Dari beberapa RS dan dokter yang gue datangi, dr Frans ini adalah dokter yang paling on time dengan pasien yang tidak terlalu banyak sehingga gue sangat nyaman saat harus konsultasi bulanan.

Alhamdulillah gue termasuk yang nggak rewel ketika hamil. Maksud nggak rewel disini adalah nggak muntah, nggak moody, nggak gampang capek, dan nggak ngidam. Tapi mertua gue menyarankan untuk nggak nyetir dulu di awal-awal masa kehamilan sehingga gue pun nggak berani nyetir mobil dulu. Selain itu, wajib hukumnya gue minum asam folat dan calcium yang diberikan oleh dokter. Makanan-makanan pun sudah mulai gue perhatikan. Makanan yang nggak berani gue makan & minum sama sekali adalah sushi mentah, steak belum matang, sate, nanas, daging kambing, kopi, teh, tape, telor 1/2 matang, dan durian (walau ada yang bilang kalau beberapa makanan yang gue sebut itu cuma mitos tapi gue tetap menghindari makanan-makanan tersebut).

Bulan 3

Di bulan ke-3 gue mulai merasakan mual, terutama kalau menyimpan bau daging dan chiki. Bulan ini gue sekitar 4-5 kali muntah dalam sebulan. Walau kata orang-orang masih termasuk jarang, tapi tetap aja mengganggu. Apalagi gue jadi benar-benar pilih-pilih makanan, nggak mau yang mengandung daging. Gue hanya doyan lauk tempe, tahu, dan lauk-lauk berprotein nabati lainnya. Tapi hal ini membuat gue sempat darah rendah sehingga gue harus makan daging. Walhasil suami mengajak gue untuk menambah asupan daging dengan makan steak, namun harus dimasak well done dan tidak boleh gosong. Alhamdulillah cukup membantu memulihkan stamina.

Di bulan ke-3 kehamilan, gue pun mengalami sedikit flek. Jadi saat itu hari Sabtu dan gue sedang berada di luar rumah bareng suami. Padahal kondisi gue nggak capek lho, jalan-jalannya juga bukan yang jalan jauh gitu. Sepulangnya gue melihat ada bercak kecoklatan di celana dalam gue. Gue udah mulai parno aja dan tanya ke kakak gue. Kalau menurut kakak sih kalau bercaknya coklat (bukan merah darah) insya Allah nggak apa-apa, kemungkinan hanya proses pelekatan janin ke rahim aja sehingga menimbulkan suatu gesekan dan bercak. Tapi dia bilang kalau besok masih ada bercak, segera konsultasikan ke dokter obgyn.

Dan itulah yang terjadi. Keesokan harinya, dengan bodohnya gue beberes kamar pake angkat-angkat buku novel berat-berat yang mau gue rapihin ke lantai 2. Setelah turun dari lantai 2, gue iseng ke toilet untuk cek celana dalam dan gue menemukan lagi bercak flek seperti kemarin, tapi lebih banyak. Gue langsung minta suami untuk antar ke IGD RS Premier segera. Namun karena itu adalah hari Minggu dan dr Frans nggak ada, jadi dokter umum yang sedang jaga hanya on call ke dr Frans saja. Setelah menyebutkan ciri-ciri dari flek gue, dr Frans hanya memberi obat penguat rahim aja dan tidak menyarankan untuk rawat inap, namun hanya bedrest saja selama 1 hari.

Keesokan Seninnya, gue dan suami konsultasi ke dr Frans supaya mendapat penjelasan yang lebih detail. Saat inilah dr Frans melakukan USG transvaginal supaya dapat melihat kondisi bayi dengan lebih jelas. Alhamdulillah bayinya terlihat jelas (walau baru bentuk bulet-bulet doang), namun dr Frans menyatakan bahwa bayi gue dalam keadaan sehat dan nggak perlu khawatir berlebihan. Namun dr Frans sempat kesel juga sama gue karena gue belum melakukan tes darah sebagaimana dia sarankan, yaitu tes darah untuk mengetahui virus tokso, rubella, HIV, CMV. Setelah konsul, gue langsung tes dan alhamdulilah aman semua.

Bulan 4

Sampai bulan ke-4 ini, perut gue belum kunjung membuncit sebagaimana layaknya orang hamil. Orang-orang di kantor sampai pada bilang “aah mbak Anin ni pura-pura hamil doang deh” hahaha. Sediiih jadi nggak bisa foto ala-ala ibu hamil, tapi yang membuat gue tenang adalah berat estimasi berat dan panjang bayi masih sesuai grafik normal.

Di bulan ke-4 ini, frekuensi mual dan muntah gue sudah mulai menurun, namun gue masih parno untuk jalan-jalan di mall yang bikin capek. Di awal bulan ke-4 pula gue terbang ke Surabaya untuk merayakan acara 4 bulanan di rumah. Untungnya kejadian flek yang sempat bikin panik itu sudah nggak kambuh lagi dan dr Frans juga membolehkan gue untuk naik pesawat.

WhatsApp Image 2017-07-11 at 07.27.29
Acara 4 bulanan *berusaha membuncit tapi tetep nggak kelihatan

Mumpung di Surabaya, gue dan suami iseng untuk konsul ke dokter obgyn Surabaya untuk melakukan screening. Oiya, apa itu screening?

Screening adalah kegiatan yang dilakukan oleh dr obgyn fetomaternal untuk memeriksa organ-organ bayi secara detail. Contohnya adalah apakah organnya lengkap, apakah katup jantung sudah terbagi menjadi 4 dan tidak ada kebocoran, apakah ada indikasi down syndrome, apakah ada kelainan di bibir (sumbing), apakah jari tangannya ada 5, dan sebagainya. Saran dari kakak gue, sebaiknya at least 1x selama kehamilan para bumil berkonsultasi dengan dokter fetomaternal untuk dilakukan screening.

Di Surabaya, pilihan dokter obgyn gue adalah dr Fahri yang praktik di RSIA Kendangsari. Yang membuat gue senang adalah dokter ini pernah menerbitkan buku, pro lahir normal, pro ASI, dan cukup alim sehingga selain konsultasi kandungan beliau juga memberi nasihat dari segi agama.

Bulan 5

Ini adalah bulan paling menyenangkan saat hamil! Mual-mual sudah hilang, posisi janin relatif sudah kuat sehingga gue udah berani nyetir lagi, dan perut terasa ringan. Pantes aja banyak bumil-bumil melakukan babymoon atau jalan-jalan ketika masa kehamilan di bulan ke-5 ini karena memang merupakan masa dimana kehamilan dikatakan relatif aman.

Di bulan ini, gue iseng untuk mencoba dokter obgyn lain di RS Pelabuhan dan RS Port Medical Center (PMC) karena letak rumah sakit ada di dekat kantor. Jadi kalau nanti ketika mendekati lahiran tiba-tiba gue mules-mules di kantor, gue bisa otw ke RS tersebut dan sudah ada medical record sebelumnya. Untuk dokter di RS Pelabuhan gue kontrol ke dr Linda, dan di PMC gue kontrol ke dr Ari.

Selain RS Pelabuhan dan PMC, gue juga pindah rumah sakit dan ganti dokter. Kenapa? Karena gue mau nyari RS yang biaya persalinannya lebih murah. Akhirnya pilihan jatuh kepada dr Febriansyah SpOG di RS Hermina Jatinegara. Dokternya masih muda, stylish (ga penting), dan yang penting adalah pintar dan enak dalam menjelaskan sesuatu. Gue pun lagi-lagi minta untuk dilakukan screening dan USG 4D. Ternyata si dedek mirip sama papanya! Hahaha.

Berikut perbandingan biaya perkiraan persalinan di RS Premier Jatinegara dan RS Hermina Jatinegara tahun 2017:

WhatsApp Image 2017-07-11 at 07.42.04
Perkiraan Tarif Bersalin RS Premier Jatinegara tahun 2017
WhatsApp Image 2017-07-11 at 07.41.46
Perkiraan Tarif RS Hermina Jatinegara tahun 2017

Bulan 6

Di akhir bulan ke-6, gue sempat salah makan. Gue makan apel di saat perut kosong dan mungkin juga gue makan makanan yang sudah kena lalat. Walhasil, gue muntah & diare hebat hingga >6 kali sehari. Karena gue takut dehidrasi, gue langsung diantar suami ke RS dan dirawat inap selama 4 hari. Sempat takut karena banyak mengkonsumsi obat, tapi yang penting dokter sudah memberi obat yang layak dikonsumsi oleh ibu hamil.

Pada bulan ini gue sama sekali nggak ikut puasa Ramadhan. Sedih memang, tapi karena gue khawatir dan dokter pun menyarankan untuk tidak berpuasa dulu, maka gue pun tidak puasa supaya target sehari minum 2 liter gue masih dapat dicapai.

Bulan 7

Di awal bulan ke-7, ada fenomena (ceile fenomena) yang bikin gue cukup kaget. Beberapa kali bangun tidur, bagian (maaf) payudara agak basah. Kadang banyak, kadang sedikit. Setelah beberapa hari, gue yakin itu adalah ASI yang rembes saat tidur. Gue lumayan panik, takutnya colostrum yang harusnya diminum oleh bayi malah keluar sekarang. Walhasil gue kontrol ke dr Febri dan katanya alhamdulillah nggak ada masalah. Justru mudah-mudahan nanti saat bayinya lahir, ASInya mengalir deras. Aaamiiinn ya Allah..

Selain itu, gue mulai memperbanyak jalan kaki (walau di mall, hehe). Jadi bulan ini (mumpung libur lebaran jatuhnya semingguan dan gue nggak pulang kampung) gue dan saudara-saudara jalan-jalan ke kota tua, Ancol, Thamrin City, dan PRJ.

Di bulan ini, sensasi tendangan dan tinju bayi juga mulai kenceng. Kadang nyeruduk sampe agak ke bawah yang membuat gue parno (ngebayangin tiba-tiba ada tangan bayi keluar dari bawah haha).

Bulan 8

Inilah masa dimana gue sering merasakan nyeri di perut bagian bawah, vagina, pinggang, oleh desakan-desakan bayi. Mungkin itu yang disebut dengan kontraksi palsu. Jadi mulai minggu ke-36, gue udah nggak berani nyetir ke kantor karena takut kalau tiba-tiba bayinya nyeruduk-nyeruduk ke bawah. Dan di bulan inipun gue mulai melakukan:

a. Bikin list barang-barang yang wajib dibeli dan dicuci.

b. Registrasi kamar ke RS rencana nanti gue melahirkan (yaitu Hermina Jatinegara)

c. Nyiapin koper isi baju gue, suami, dan bayi (jadi kalau tiba-tiba mules tinggal berangkat ke RS dan geret koper)

Baby needs
List untuk newborn baby

Ada satu poin tambahan lagi yang harusnya dilakukan tapi belum gue lakukan, yaituuuu senam hamil dan olahraga. Hiiksss.. kenapa ya gue sangat susah tergerak untuk olahraga. Jadi, gue perbanyak olahraga jalan kaki aja dulu. Sedangkan dokter obgyn gue menyarankan untuk olahraga renang.

Bulan 9

Bulan ke-9! Selain excited, gue juga lumayan deg-degan ngebayangin proses lahiran. Gue browsing sana sini cara ketika melahirkan itu seperti apa, perlu pake ILA (epidural) atau nggak, dan sebagainya. Di bulan ke-9 ini, gue sudah mulai satu persatu menyelesaikan kewajiban beli barang-barang untuk si dedek. Selain barang-barang dasar untuk newborn, gue juga mulai beli alat-alat pendukung seperti kulkas baru (yang freezernya nanti akan dipakai untuk nyimpen ASI karena kulkas yang sekarang sudah penuh), kasur untuk ditaruh di lantai (untuk jaga-jaga kalau bayi sudah bisa tengkurep dan menggelinding saat tidur harus diberi kasur di sekelilingnya supaya empuk kalau jatuh), dan 1 lagi yang belum sempat dibeli adalah pasang CCTV (supaya bisa ngontrol walau posisi sedang ada di kantor).

 

Okee begitulah kira-kira gambaran besar dari pengalaman ketika hamil, doakan semoga proses lahiran gue nanti lancar yaa.. Aaamiiiin.. Nanti gue akan posting blog selanjutnya tentang drama pilih-pilih stroller, baby box perlu atau nggak, dan sebagainya haha.

See you!

-deguitarra-

 

 

 

Advertisements