Wisata Kuliner di Makassar

Halooo semua!

Mumpung masih fresh di ingatan, gue mau share pengalaman jalan-jalan di Makassar selama 2 hari. Jadi ceritanya karena teman kantor gue ada yang nikah di Makassar, maka gue dan teman-teman pun sekalian merencanakan wisata kuliner disana.

Waktu itu adalah akhir Desember, waktu yang tepat untuk merayakan gue yang baru menginjakkan kaki pertama kali di Pulau Sulawesi (nggak nyambung). Gue dan cowok gue (sebut saja mas James) berangkat dari Surabaya dan disana janjian dengan teman-teman gue yang berangkat dari Jakarta. Kami sampai di Makassar sekitar pukul 11 siang. Orang-orang dengan logat Makassar pun bermunculan di bandara. Suara-suara khas Makassar membahana di kuping kami. Satu-satunya yang gue inget adalah “KODONG KAU!”. Karena teman-teman gue belum sampai dan suasana hujan super deras, jadi gue dan cowok gue mencari tempat enak buat nunggu. Manalagi kalau bukan : Mall. Haha..

Sebenarnya agak rugi gimana gitu udah jauh-jauh ke Makassar tapi mainnya cuma ke mall. Tapi gimana lagi, karena hujan deras dan susah kemana-mana jadi kita sementara ke mall dulu aja. Pilihan jatuh pada Trans Studio Makassar yang kata supir taksinya sih mall paling bagus di Maksasar. Oke let see..

DAY 1

  1. Trans Studio Mall Makassar

Supaya tidak menurunkan kadar tema wisata kuliner Makassar kali ini, walhasil gue di mall ribut nyari tempat makan khas Makassar. Alhamdulillah nemu juga makanan khas local, yaitu coto ikan.

20151219_112011_001[1]

Sebelum lanjut cerita, gue mau ngegaring dulu nih. Mungkin banyak yang udah pernah denger juga ya.. Buat yang belum pernah denger deh, gue ada tebak-tebakan.

“Apa bedanya soto sama coto?”. (Jawaban ada di paling bawah artikel ini ya).

Oke lanjut.

Akhirnya gue dan mas James pesen coto ikan dan es pisang ijo. Walaupun minimalis (esnya cuma diwadahin plastic mika, hiks) gue tetap senang. Yang penting 2 list kuliner sudah dicoret.

  1. Leang-Leang

Hari sudah cukup sore (teman-teman gue delay). Akhirnya pasukan pun terbagi menjadi 2 mobil, yaitu mobil menuju Leang-leang dan mobil non leang-leang. Awalnya gue sempet ragu juga, ke Leang-leang apa nggak usah karena saat itu sudah pukul 16.00 dan kondisi hujan. Akhirnya gue memutuskan untuk naik mobil ke Leang-Leang.

Leang-leang adalah suatu pegunungan yang terletak di Batimurung, Maros, Sulawesi Selatan. Perjalanan dengan mobil sekitar 1 jam dari Makasar. Untungnya perjalanan saat itu lancar dan gue sampai disana sekitar pukul 17.00. Langit belum gelap, hujan mulai berhenti, udara pedesaan semerbak menyelimuti, sapi dan kerbau di kanan kiri, semangat gue semakin membuncah!

IMG-20151219-WA0027[1]

Leang-leang

Disana kami sampai dan membayar uang tiket masuk Rp 10.000,- per orang. Gue, mas James, Vonny, Zaka, dan Misykah (bayinya Vonny) kebetulan bareng dengan rombongan lain yang ditengarai adalah anak-anak SMA. Kami diantar ke bagian dalam area Leang-leang oleh 1 bapak-bapak yang menjadi tour guide.

Kami diantar ke sebuah gua yang katanya di dalamnya ada suatu bekas sejarah. Wow fenomena sejarah seperti apakah itu? Sontak saja gue penasaran. Setelah naik ke tangga, sampailah kami di dalam gua dan ternyata kita harus manjat batu lagi untuk melihat sisa sejarah itu. Apakah sisa sejarah itu? Ternyata ada cap tangan-tangan di dinding gua yang konon dipercaya untuk melawan bala. Hmm.. Karena gue cukup tua untuk memanjat batu, maka gue pun mengandalkan tongmas (tolong dong mas). Salah satu rombongan anak SMA itu gue titipin HP untuk memfoto tangan-tangan itu. Ternyata ada untungnya juga serombongan bareng ABG-ABG paruh baya ini.

IMG-20151220-WA0076[1]

Cap tangan

IMG-20151220-WA0070[1]

Abaikan muka sang penjaga goa

Setelah puas foto di Leang-leang, kami kembali ke Makassar. Namun kondisi jalanan sangat macet sehingga kami baru sampai di Makasar sekitar pukul 20.00. Karena kelaparan, kami pun langsung membabi buta mencari makanan. Akhirnya pilihan makanan jatuh kepada konro karebosi. Walaupun pernah makan konro karebosi di kelapa gading, tapi rasanya tetep wajib makan konro di tempat lahirnya.

DAY 2

Bersiap-siap ke acara inti, yaitu ke pernikahan teman! Setelah kami selesai dari acara pernikahan yang bergaya Bugis ini, kami menuju hotel dulu untuk ganti baju dan lanjut perjalanan hari ini.

  1. Fort Rotterdam

Fort Rotterdam adalah benteng peninggalan kerajaan Gowa-Tallo yang direbut oleh Belanda. Dulu namanya adalah benteng Ujung Pandang. Namun setelah jatuh ke pangkuan Belanda, namanya berubah menjadi Fort Rotterdam.

Di dalamnya terdapat museum tentang kerajaan Makassar dan juga ada ruangan tahanan Pangeran Diponegoro.

20151220_142529[1]

Fort Rotterdam

2. Pantai Losari

Salah satu icon di Makasar ini wajib hukumnya untuk dikunjungi dan foto di depan tulisan “PANTAI LOSARI”. Untuk anak-anak ABG biasanya akan foto di depan tulisannya dengan dicrop bagian kanan kiri sehingga tulisannya menjadi “XXXTAI LOXXXX”.

20151220_135942[1]

Pantai Losari

Saat saya kesana, entah ada acara apa sehingga banyak sekali sampah berserakan. Karena hujan cukup deras, akhirnya gue berteduh ke salah satu kedai yang berjejer di dekatnya menjual cemilan khas Makassar yaitu Pisang Epe.

3. Makan Pisang Epe

Pisang epe adalah salah satu cemilan khas di Makassar. Kalau di Jakarta mungkin ibaratnya seperti tenda yang jualan roti bakar. Di dekat Pantai Losari, banyak berjejer penjual pisang epe. Setelah gue menghitung kancing baju untuk menentukan penjual mana yang akan kami datangi, kami akhirnya beli beberapa porsi pisang epe dengan berbagai rasa (coklat, keju, original).

IMG-20151220-WA0066[1]

Pisang epe rasa keju coklat

4. Makan Mie Titi

Apa itu mie titi? Sebelum gue jelaskan please banget jangan sampe nyebut kebanyakan huruf T nya. Mie titi adalah makanan khas Makassar berupa mie yang masih keras tapi disajikan dengan kuah kental. Dan di antara kuah kental itu kadang ditemukan semacam gorengan kecil-kecil yang enak bangetttt dan gue nggak tahu itu apa. Hmm..kita harus memecahkan misteri ini bersama.

IMG-20151220-WA0069[1]

Mie Titi dengan potongan misteri gorengan yang enak banget (warna coklat)

5. Makan es pisang ijo dan pallubutung

Sudah kenyang dengan makanan berat, saatnya beralih dengan dessert. Dessert asli Makassar, sudah tentu target kita adalah es pisang ijo dan pallubutung di Warung Bravo (tapi lupa alamatnya dimana). Di tempat makan es pisang ijo tersebut juga ditemukan cemilan-cemilan lain seperti jalang kote (semacam kue pastel), baruasa, dan kalakke’re.

Setelah kuliner dan membeli oleh-oleh otak-otak, kami pun kembali ke tempat penginapan masing-masing untuk persiapan kembali ke rumah.

See you Makassar! Lain kali harus lanjut jalan ke Tanjung Bara, Tanjung Bira, dan Tana Toraja nih.

Salam,

deguitarra

 

*kunci jawaban tebak-tebakan di atas : kalau soto pake daging sapi, kalau coto pake daging capi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s