Bukan tiba-tiba

Gue memulainya di hari Jumat, 26 September 2014

Ya, hari yang katanya hari suci dalam Islam.

Hampir semua orang yang gue kenal mempertanyakan ketiba-tibaan gue dalam berhijab. Dengan sifat biasa petakilan, lari kesana kemari, dan hobi foto-foto loncat, nggak heran banyak orang heran mengetahui gue berhijab. Bahkan ada yang mengira gue berhijab hanya karena ingin bergaya.

Sebenarnya ini semua bukan tiba-tiba. Gue berjuang mengumpulkan niat sejak 2 tahun yang lalu.

——————————————————————————————————————————————————

Jakarta, suatu hari di bulan Juni 2012

14 Jan 2012 06_27_2012-01-14_13-11-08_068

Sudah setengah jam gue nongkrong di cafe ini sendirian. Kemudian gue beranjak ke toilet; bukan untuk buang air, tapi untuk melihat keadaan hijab. Memang, seharian ini gue mencoba memakai hijab di salah satu mall. Pertama kali memakai hijab seharian, dikit-dikit gue membenarkan posisi hijab, memastikan jarum pentulnya tidak lepas. Dan gue merasa sangat aneh -bagaikan sedang jalan-jalan menggunakan sesuatu yang besar di kepala- dan merasa kalau semua orang melihat gue.

Adik gue sudah berhijab sekitar setahun yang lalu saat masih SMA. Tidak heran banyak orang bertanya “wah mbaknya kapan nih?”. Ada juga Bapak-bapak di kantor gue yang nyuruh gue berhijab tapi dengan nada setengah memaksa. Ada juga teman-teman gue yang suka menyelipkan kata-kata “makanya pake jilbab dong”.

Cara-cara seperti itulah yang nggak akan bisa membuat gue sadar. Gue nggak bisa tiba-tiba pakai jilbab hanya karena disuruh, disindir, dipaksa. Sejujurnya, gue malah makin malas kalau digituin. Pingin rasanya gue bilang ke mereka kalau jangan sok paling benar sendiri padahal sifatnya masih saja suka ngomongin orang lain, suka ngegodain cewek, dan sifat-sifat lainnya. Walaupun gue tahu niat mereka baik sih.

Mama tahu betul sifat gue yang nggak bisa dipaksa, makanya beliau nggak pernah secara terang-terangan menyuruh gue berhijab. “Wuk, kalau lagi jalan-jalan nggak mau nyoba pake wuk?”, kata Mama sambil mengusap-usap kepala yang membuat hati ini jadi lebih adem.

Keinginan gue untuk memakai hijab makin menipis dikala gue diberi tugas sekolah dari kantor di bulan September 2012 di Inggris. Banyak sekali yang membuat pikiran dan tenaga terkuras. Salah satu yang membuat gue mengurungkan niat untuk berhijab kala itu adalah gue takut ada masalah dengan passport, bagaimana jika nanti di kelas gue didiskriminasikan, dan alasan lain. Akhirnya niat gue kembali terkubur di September 2012.

————————————————————————————————————————————————

Newcastle, suatu hari di bulan September 2012.

Gue baru tahu kalau negara ini multicultural, tidak ada diskriminasi kepada kalangan minoritas; kecuali beberapa ABG geordie yang labil yang masih suka melakukan diskriminasi. Bahkan di kota ini gue bersyukur bisa ketemu banyak warga Indonesia. Gue berteman dengan anak-anak sebaya yang hobi travelling dan makan-makan, dan gue juga memiliki komunitas pengajian rutin tiap bulan. Awalnya tujuan gue ikut pengajian rutin sih cuma untuk mengincar hidangan masakan Indonesia, hehe. Tapi lama-lama, gue sadar memang kalau dengan pengajian, gue bisa menjaga hati untuk tidak terjerumus ke dalam hal-hal nggak benar selama gue sekolah disini.

IMG_2955

Pengajian akbar warga Indonesia se-Britania Raya di Leicester (2012)

——————————————————————————————————————————————————-

Jakarta, September 2014

Sore itu, gue dan Mbak Desi, teman kost dan kantor gue, pergi ke penjahit kebaya. Sepulangnya dari penjahit, mbak Desi membeli beberapa hijab. Gue mengamati dari jauh.

Kemudian gue tiba-tiba ikutan membeli hijab. Mbak Desi ngebantuin memilih hijab sesuai jenisnya. Ternyata memang banyak banget jenis kerudung, ada pashmina, segi empat, bahan paris, sifon ceruti, polyester, katun, dan sebagainya. Favorit gue sejauh ini tetep nggak beda dengan bahan baju favorit gue, yaitu sifon! Alasannya memang simpel banget siih, cepat kering dan nggak usah disetrika.

Setelah gue beli hijab, 2 hari  saat weekend gue jalan-jalan sendirian ke mall dengan memakai hijab. Dan hari ke-3, dimana gue harus ke kantor, gue mulai merasa aneh kalau tidak pakai hijab ke luar rumah. Akhirnya, tepat mulai hari itulah gue resmi mengenakan hijab. Alhamdulillah, gue pakai hijab tanpa paksaan, benar-benar kesadaran, dan tidak ada kesengsaraan saat memakainya (seperti gerah, jelek, berantakan, ribet, dan lain-lain). Memang benar kata Mbak Desi : “Tuh kan Nin, sekalinya pake jadi nggak mau lepas tau.. Apalagi nanti ketagihan beli hijab melulu”.

Alhamdulillah keluarga gue sangat mendukung gue pakai hijab (terutama Bokap yang sekarang mendadak jadi ustadz, sampe terharu gitu beliau hihihi), dan yang nggak kalah adalah pacar.

Dan gue saat ini sedang merintis bisnis kecil-kecilan hijab, doain segera launching ya! Hihihi

———————————————————————————————————————————————

Ada beberapa failed moment alias hal-hal konyol setelah gue pake kerudung. Contohnya adalah seperti ini:

  1. Sebelum pakai hijab, setiap gue ke toko pasti disapa mbak, kak, atau bahkan dek. Sekarang dipanggil Bu, Bunda (iiiiih!), bahkan Bu Haji. Sabar buuu..
  2. Hari pertama pakai hijab, tanggapan orang-orang adalah: “Nin, kayak pocong!!!”, “Halo Siti Ainuntya”, “Itu jarum pentulnya nggak kurang banyak?”, “Ciputnya ga rapi bangetttt”, dan sebagainya. Gue nggak sedih atau sebal malah sebaliknya, gue sangat terhibur dengan teman-teman gue yang memang hampir semuanya gila, hahaha.
  3. Di suatu malam di dermaga pelabuhan, seorang mamang bertanya dengan ragu-ragu ke gue “Maap mbak, saya nggak enak ngomongnya nih, tapi ini kuncir rambut siapa ya? Kok bisa jatuh di deket saya”. Busetttt, itu kuncir rambut gue! Kenapa bisa doi melorot sampai ngelewatin hijab dan baju. Dan imbasnya adalah rambut gue saat itu nggak beraturan, keluar-keluar sampe dari hijab bagian dagu bagaikan sinterklas berjenggot rambut hitam.

Begitulan sharing tentang perjalanan gue mengenakan hijab. Semoga semakin lama, penampilan semakin fashionable namun tetap syar’i.

 

Cheers,

deguitarra

2 thoughts on “Bukan tiba-tiba

  1. HUwaahhh… That’s it!!! Keren banget Anin!!! Whenever I visited this blog, I always giggle. Dah lama banget aku stalk blogmu dan baru sekarang berani post komen..

    Lucuuu banget sekaligus terharu banget baca ceritamu soal berhijab ini! Congrats ya sayang! May God Bless you always!

    Kiss kiss,
    tarapuri,com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s