Setahun yang lalu, saat gue masih tinggal di UK untuk sekolah, bulan Juni adalah bulan yang cukup berat. Kenapa? Karena saat itu bertepatan dengan liburan summer, dimana anak-anak undergraduate lagi asyik Eurotrip, sedangkan anak-anak Master mulai ngerjain dissertation. Pas bulan Ramadhan. Puasa 19 jam. Mulai jam 3 pagi, buka jam 10 malam. Summer udaranya panas bikin haus. Ngumpulin data buat dissertation nggak kelar-kelar. Makin susah mecahin jelly di Candy Crush. Kyaaaaaa!

Awalnya gue cukup tegang memasuki bulan Ramadhan 19 jam ini. Konon katanya bikin kepala pusing jadi bikin dissertation nggak maju-maju. Untungnya Allah baik banget sama gue. Datanglah teman-teman gue yang selalu ngajak masak bareng buat sahur dan buka di dapur gue, plus tarawih jamaah bareng di kamar. Sebut saja mereka Mas Nanda dan Sepun. Kami bertiga punya kelebihan masing-masing. Mas Nanda dengan inisiatif tinggi menyiapkan bahan makanan yang bahkan gue saja jarang terpikir untuk membeli bahan makanan high quality seperti itu. Sepun yang sangat kreatif dalam memasak dan jiwa ke-ustad-annya kian membuncah sehingga siap sedia memimpin sholat tarawih setiap hari. Kelebihan gue.. hmm.. memasak dengan template yang sudah biasa gue lakukan.

Template masakan gue = x + bawang bombay + paprika + saus/sambal/kecap + bawang putih + bumbu penyedap + y

x = variabel protein. Bisa ayam, daging, udang, ikan, dan sebagainya.

y = variabel random. Bisa jagung, toge, black pepper, tomat, telur, brokoli, sawi, dan bahan random lainnya.

Salah satu masterpiece andalan gue berdasarkan template
Salah satu masterpiece andalan gue berdasarkan template. Ayam asam manis.
Mas Nanda & Sepun, rekan seperjuangan selama Ramadhan.
Mas Nanda & Sepun, rekan seperjuangan selama Ramadhan.

Jadi inilah yang gue lakukan di bulan Ramadhan.

  1. Tidur jam 6 pagi supaya bangun jam 1 siang (lumayan puasa jadi nggak terlalu berasa).
  2. Ngerjain dissertation dari jam 2 sampe jam 9 malam.
  3. Jam 9 malam mulai masak, jam 10 buka. Lanjut tarawih dan nonton film bareng sampe jam 01.30.
  4. Jam 01.30 mulai manasin makanan dan sahur.
  5. Jam 3 subuh jamaah dan pulang ke kamar masing-masing.

Perubahan jadwal tidur yang tidak sehat itulah yang bikin badan gue menggembrot. Belum lagi kalau mas Nanda bawa berbagai macam dessert yang nggak mungkin gue tolak seperti es krim Ben Jerry’s, es krim haagen dazs, berbagai macam jus, irn bru, cakes, dan sebagainya.

Gue juga pernah memasak menu selain template andalan di atas, seperti beef casserole.

Beef Casserole
Beef Casserole
Masukkan semua bahan
Masukkan semua bahan
Masukkan ke dalam oven
Masukkan ke dalam oven
Beef casserole gosong siap disajikan
Beef casserole gosong siap disajikan

Usut punya usut, Ramadhan memang membawa berkah buat gue untuk makin mahir masak. Gue jadi lumayan bisa bikin bakwan jagung, bala-bala, dan lainnya. Tapi prestasi paling membanggakan yang pernah gue masak adalah membuat bakso dari daging, sampe bunder-bunderin hingga jadi bakso kayak mamang-mamang grobak. Dan juga masak cireng asli dari aci yang digoreng.

Gue juga pernag membuat dessert berupa cupcakes yang gue hias ala-ala afternoon tea (walaupun beda jauh). Namanya juga usaha..

Cupcakes ala afternoon tea.
Cupcakes ala afternoon tea.

Itulah sedikit cerita semasa Ramadhan di UK yang nggak pernah bosan membuat gue pingin kembali kesana walau sebentar saja.

 

Cheers!

Advertisements