Dubai. More than a transit spot.

Baru kali ini gue mundurin jadwal tiket pesawat kepulangan gue ke Indonesia di H-19 jam keberangkatan, karena that’s absolutely not me punya action spontan kayak gitu. Alasannya adalah, karena gue tergiur rencana temen gue, sebut saja Rilla, yang pulang 2 minggu lagi ke Indonesia dan sengaja untuk transit dulu di Dubai selama 3 hari. Brilliant juga sih, secara kayaknya someday gue nggak akan mengkhususkan diri untuk liburan ke Dubai, melainkan sengaja memperpanjang waktu transit di Dubai untuk liburan. Dan kayakanya kalau nanti gue udah married, punya anak, rada ribet ya perpanjang transit di Dubai kalau mau ke Eropa. Jadi dengan semena-mena, gue mundurin tiket gue jadi 2 minggu lagi dan serunya lagi Avie dan mas Nanda jadi pengen ikutan liburan ke Dubai. Yeay, rame!

Dubai adalah salah satu kota di negara United Arab Emirates yang memiliki gedung tertinggi di dunia, air mancur terbesar di dunia, kota yang mengalami pertumbuhan tercepat di dunia, kota yang memiliki mall terbesar di dunia, hotel paling luxury di dunia, dan hal “ter- ter-” lainnya.

Gue berangkat dari Newcastle di suatu musim gugur, dimana suhunya saat itu adalah 10 derajat celcius. Dan gue sampai di Dubai dengan suatu malam bersuhu 40 derajat celcius. Berasa ada hairdryer raksasa nyemprot angin panasnya ke badan gue dari atas sampai bawah.

Yang membuat gue senang di hari kedatangan gue di Dubai adalah, dengan hanya £30 semalam, dimana kalau di London gue bakal cuma dapet hostel atau hotel sederhana, disini gue bisa dapet hotel dengan fasilitas apartment bernama Copthorne Hotel dan terletak di sebelah Deira mall dengan city view yang amazing!

City view dari balkon kamar

City view dari balkon kamar

Setelah istirahat, gue dan rombongan memulai acara pertama tour kami yaitu, DESERT SAFARI!

Gue pikir, desert safari ini hanyalah foto-foto di gurun pasir sambil menunggu sunset. Ternyata jauuuh lebih seru dari yang dibayangkan! Karena kami juga sempat menikmati naik mobil Land Cruiser sambil mengarungi padang pasir yang naik turun. Itu gue teriak sambil ketawa-ketawa super kenceng karena THAT WAS SUPER FUN! Udah berasa mobilnya kayak mau ngeguling tapi ternyata nggak.

Siap-siap sensasi goncangan gurun pasir

Siap-siap sensasi goncangan gurun pasir

The beauty of sunset

The beauty of sunset

Setelah puas foto-foto di gurun pasir (dimana setelah sesi ini gue merasa ada suara ‘kres-kres’ tiap gue ngomong alias banyak pasir masuk mulut), kami lanjut ke atraksi berikutnya yaitu nonton belly dance, naik onta, sambil makan makanan khas Dubai. Semua tour ini termasuk dalam satu paket atraksi dengan membayar 100 AED. Totally satisfied!

Belly dance

Belly dance

Naik onta

Naik onta. Nggak beda jauh sama naik onta di bonbin.

Ambil semua jenis makanan

Ambil semua jenis makanan

Hari sudah malam tapi langkah gue dan rombongan masih mengayun ke arah bangunan tertinggi di dunia yaitu Burj Khalifa yang terletak di dekat Dubai Mall, mall terbesar di dunia. Di depan Burj Khalifa terletak Dubai fountain, dancing fountain terbesar di dunia.

Burj khalifa

Burj khalifa

Menunggu detik-detik Dubai fountain

Menunggu detik-detik Dubai fountain

Untuk ngeliat link rekaman Dubai Fountain, bisa dicek di link youtube upload dari gue berikut ini:

Setelah puas nonton Dubai fountain sambil foto-foto dan nongkrong makan popcorn sampai toko-toko di Dubai Mall tutup, gue dan yang lainnya kembali ke hotel dengan badan masih penuh pasir.

——————————————————————————————————————————–

Hari ke-2 di Dubai diawali dengan naik Taksi menuju the Atlantis. Yup, Dubai memiliki pulau buatan yang namanya the Palm karena bentuknya yang mirip pohon palem, dan Atlantis merupakan salah satu kawasan yang terletak di pulau buatan ini.

Courtesy by http://sites.psu.edu/wethepeople/2013/09/29/palm-jumeirah/

Bentuk the Palm dilihat dari atas. Courtesy by http://sites.psu.edu/wethepeople/2013/09/29/palm-jumeirah/

the Atlantis

the Atlantis

Di dalam the Atlantis, gue dan lainnya memasuki aquarium raksasa yang namanya the Lost Chambers Aquarium. Yang unik dari aquarium ini adalah suasananya yang seolah-olah kita berada di suatu jaman kerajaan Babylonia (apacoba). Bahkan backsound tiap ruangan pun beda-beda. Gue sangat terperangah di saat melihat backsound di ruangan ubur-ubur yang sangat cocok menggambarkan gerakan lemah gemulai si ubur-ubur. Brilliant.

Sayangnya, harga 100 AED masih terlalu mahal untuk entrance fee aquarium ini karena tidak sebesar yang gue bayangkan.

Middle east concept of a giant aquarium

Middle east concept of a giant aquarium. Muka gue awalnya sok-sokan Ratu Balqis, jatuhnya malah jadi Ratu Balqis keselek sendal.

Setelah puas menghabiskan waktu di the Atlantis, kami naik taksi menuju Burj Al-Arab. Bangunan ini merupakan hotel paling luxury di dunia. Letaknya berada di Teluk Peninsula, dan berada di private beach, alias kalau mau nginep disini kudu sewa pantai!

Burj Al-Arab

Burj Al-Arab

Begitulah kiranya jalan-jalan gue, Rilla, Avie, dan Mas Nanda di Dubai. Sayangnya, kami nggak sempat naik ke atap Burj Khalifa dan naik city sightseeing bus mengelilingi kota Dubai. Dan menurut gue, Dubai cukup sekali aja kesana karena gue nggak tahan udaranya yang super panas dan jarak antar landmark sangat berjauhan.

See you,

deguitarra.

4 thoughts on “Dubai. More than a transit spot.

  1. Liburan yg seru..
    Suatu saat pasti mampir Dubai lg, msh penasaran ngelihat dancing fountain dari atas..

    Oiya sempatin jg ke Abu Dhabi, yg sepertinya ngga kalah seru sama Dubai..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s