Sssst be quiet please. It’s Düsseldorf.

Hari pertama perjalanan euro trip sudah terlewati dengan sukses. Gue dan teman-teman naik train meninggalkan Belanda dan memasuki Jerman. Tapi sebelum ke Berlin, kami nginep semalem dulu di Düsseldorf. Ketika train sudah melewati perbatasan negara Belanda – Jerman, anjing-anjing patroli memasuki train untuk mengendus-endus penumpang yang membawa ganja (karena ganja di Belanda dianggap legal sedangkan dilarang penggunaannya di negara lain di Eropa). Akhirnya sampailah train kami di Düsseldorf pada malam hari.

Dari station, kami jalan mengikuti arahan google maps ke hotel. Ternyata nggak diduga, daerah tempat jalan menuju hotel adalah daerah ‘gelap’ dan Rama hampir aja kena copet. Jadi disini ternyata modus nyopetnya rata-rata sama : pertama minta lighter (pemantik api untuk ngerokok), kemudian sok asik ngomongin hasil pertandingan bola sambil bergaya ngegiring bola, ngedempet-dempet ke si korban pencurian. Sembari dempet-dempetin itu, dia ambil dompet dari kantong. Untung aja hotelnya nggak terlalu jauh dari station, jadi kami langsung rebahan sebentar dan keluar lagi untuk cari makan. Supaya aman, naik taksi tentunya pulang dan pergi.

Keesokan paginya, kita pergi menjelajah Düsseldorf yang sepi. Akhirnya kita makan di Top 180 restaurant, itu adalah restoran yang berada di puncak Rhine Tower dan ruangannya bisa muter selama makan.

Rhine Tower (Rheinturm)

Rhine Tower (Rheinturm)

Gue iseng pesen goat cheese di resto itu. Dan gue sangat menyesal. Nggak lagi-lagi gue makan keju kambing yang baunya aja bau mbek, apalagi rasanya.

Goat cheese. Nggak lagi-lagi!

Goat cheese. Nggak lagi-lagi!

Pemandangan kota Dusseldorf dari atas

Pemandangan kota Dusseldorf dari atas (courtesy by Avie)

Muka sumringah

Muka sumringah

Setelah selesai makan, kita semua jalan-jalan di sekitar city centre sembari menunggu kereta sore menuju Berlin.

Kanal

Kanal

Ini adalah tempat yang paling gue suka di Dusseldorf, tapi nggak tau namanya apa:

Ada yang tau namanya apa?

Ada yang tau namanya apa?

Selama di Dusseldorf, suasananya sepiiii banget. Nggak ada seorangpun orang ngobrol di tempat umum. Jadi pas lagi nunggu kereta bawah tanah, gue sampai harus bisik-bisik untuk bicara ama teman-teman. Gue masih nggak ngerti, apa memang budaya orang Dusseldorf nggak suka ngobrol di perjalanan ya?

Auf wiedersehen!

-deguitarra-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s