Perjalanan panjang menuju selembar visa Schengen

Entah kenapa, gue sangat suka semua hal yang berbau perjalanan. Perjalanan si A mencari si B yang berbuah begini dan di tengah jalan malah ketemu itu dan endingnya malah diluar dugaan. Karena itulah nama blog gue it’s not about the destination, it’s a journey.

Di post blog ini, gue mau cerita tentang perjalanan rumit mendapatkan visa schengen. FYI, visa schengen adalah visa yang dipakai supaya boleh masuk ke 25 negara-negara tertentu di Eropa. Saat ini gue berada di Newcastle UK, jadi gue bikin visa dari embassy disini. Hal pertama yang gue dan teman-teman lakukan adalah : kita mau liburan kapan dan ke negara mana aja?

image(2)

Ngerancang itinerary sambil makan masakan Avie yang cetar membahana

Dari hasil diskusi bareng Rilla dan Avie ditambah personel dari luar kota yaitu Hugo dan Rama, kami berencana untuk berangkat dengan rincian sebagai berikut :

1 malam di Belanda, 3 malam di Jerman, 1 malam di Prague, 1 malam kembali ke Jerman, 1 malam di Swiss, 4 malam di Prancis, lalu besok paginya kembali ke UK.

Setelah itu, langkah kedua adalah menentukan : kita daftar lewat embassy negara apa?

Nah, di tahap ini, banyak sekali pertimbangannya, walaupun syarat negara tempat apply visa sudah jelas : di negara manakah Anda menghabiskan waktu paling banyak? Jika jumlahnya sama, di negara manakah Anda pertama kali masuk?

Jika dilihat dari itinerary gue, gue pikir bisa nih daftar antara di Jerman atau di Prancis karena jumlah harinya sama dan paling banyak. Jadi gue mencoba untuk daftar di embassy Jerman, apalagi embassy Jerman katanya sih biaya applynya paling murah dan tempat applynya ada di cabang Edinburgh yang dekat dari Newcastle (daripada jauh-jauh ke London). Oke, fix mari kita bikin appointment dengan embassy Jerman cabang Edinburgh! Kebetulan, Bagus juga berencana untuk ke Eropa di libur easter ini bareng keluarganya, jadi bertambahlah 1 pasukan pengurus visa.

———————————————————————————————————–

Kesialan dan keberuntungan pertama.

Kesialan pertama muncul saat gue membuka web embassy Jerman cabang Edinburgh untuk bikin appointment. Jadwal appointment semua penuh, dan yang paling cepat adalah awal April, sedangkan gue mau berangkat pertengahan Maret. Waduh. Alhasil gue pun bikin appointment di embassy Jerman cabang London yang dapet minggu depan (tanggal 20 Februari). Fiuuh.. Gue juga ngedaftarin Rilla. Sialnya, dia dapet jadwal beda hari ama gue (tanggal 21 Februari). Huhuu nggak ada teman ke London. Avie juga dapet tanggal 26 Februari. Padahal selang waktu gue, Rilla, dan Avie daftar appointment itu cuma beberapa menit! Mungkin saking banyaknya orang yang mau daftar. Tiba-tiba gue dapet kabar dari Bagus kalau dia dapet tanggal dan jam yang sama dengan gue, what a coincidence! Akhirnya gue dan Bagus langsung beli tiket ke London untuk tanggal 21 Februari. Persoalan pertama beres! Mari kita menyiapkan dokumen.

———————————————————————————————————–

Kesialan kedua.

Selesai beres pesen tiket untuk tanggal 20 Februari, menyiapkan dokumen-dokumen dan bersiap tidur, gue dapet bbm dari Rilla yang isinya : “Nin, ini di web embassy Jerman ada tulisannya lho kalau warga North-east England harus daftar di embassy Jerman cabang Edinburgh, bukan London”.

Gue mau telpon ke embassy, tapi ternyata cuma bisa dikontak lewat email. Jadi gue email untuk tanya bolehkah daftar lewat embassy Jerman London walaupun gue warga north-east England karena schedule di embassy Edinburgh udah penuh hingga awal April. Sialnya, waktu itu sudah Jumat sore, jadi bisa dipastikan gue akan dapat balesan email paling cepet hari Senin, sedangkan gue harus ke London hari Rabu. Gue langsung siap-siap plan B, yaitu daftar di embassy negara lain. Tapi sembari menunggu jawaban email, gue nanya info ke teman-teman gue untuk menenangkan pikiran. Hampir semua teman gue cukup yakin kalau harusnya boleh-boleh aja daftar di London. Baiklah, sejauh ini asumsikan kalau boleh daftar di embassy Jerman cabang London.

—————————————————————————————————————

Kesialan ketiga.

Hari Senin saat gue di kelas, tiba-tiba bbm gue bergetar. Email dari Embassy Jerman berisi message singkat padat jelas, yaitu :

You must apply in Edinburgh please.
No exception can be made.

Rasanya gue pengen teriak ke dosen gue : Wadefaaaakk!

Selesai kelas, gue langsung ngabarin pasukan lain kalau kita harus ganti daftar ke embassy lain. Gue buka web embassy Prancis dan Belanda, yang appointmentnya lebih awal adalah Prancis. Oke, mari kita booking appointment ke embassy Prancis di London.

————————————————————————————————————–

Keberuntungan kedua.

Gue dan Bagus nggak sengaja dapet bareng lagi appointment embassy Prancis untuk keesokan harinya (tanggal 19 Februari), sedangkan Avie dan Rilla dapet tanggal 26 Februari. Dokumen yang diganti cuma formulir pendaftaran aja. Alhamdulillah beressss, ayo kita cari tiket bus karena jam appointmentnya terlalu pagi, dan tiket kereta untuk pulang ke Newcastle.

————————————————————————————————————-

Kesialan keempat.

Gue mendadak sakit perut saat baca bbm Bagus “Nin, udah nggak ada lagi bus untuk nanti malem. Semuanya full-booked.”

Why obstacle appear when you almost reach the finish line?

Dengan lemas gue langsung ubah jadwal appointment dengan mengirim email ke embassy Prancis. Bagus langsung dapet setengah jam kemudian, yaitu tanggal 26 Februari, bareng dengan Avie dan Rilla. Sedangkan gue tak kunjung dapet balesan email! Malem itu gue mimpi buruk.

————————————————————————————————————-

Keberuntungan ketiga.

Keesokan paginya, gue iseng telpon embassy Prancis karena gue belum dapet schedule appointment yang baru. Dan tak disangka, tiba-tiba gue dapet jadwal besok tanggal 20 Februari! Akhirnya tanpa pikir panjang langsung gue jawab ‘Okay miss, I will come tomorrow morning, thank you!’. Dan untungnya gue belum sempat amend jadwal tiket lama gue, jadi gue masih bisa berangkat dengan tiket yang udah gue pesen waktu itu. Gue berangkat malem naik bus, sampai di London keesokan paginya.

————————————————————————————————————–

Keberuntungan keempat.

Ini adalah pengalaman pertama kalinya gue pergi keluar kota sendirian. Untuk cewek yang nggak bisa baca peta dan lemah dalam menghapal jalan seperti gue, agak menghawatirkan. Tapi sehari sebelumnya gue udah diajarin Bagus baca peta dengan pakai googlemaps.

Keberuntungan gue datang saat gue keluar dari Tube (istilah MRT di London) Kensington-Olympia, yaitu Tube terdekat dengan embassy Prancis. Dari Tube itu, gue masih harus cari jalan ke embassy. Gue membuka lembar formulir aplikasi karena disana ada peta menuju embassy. Alhamdulillah, tiba-tiba ada seorang negro yang menyapa gue dan dia bilang kalau dia juga mau ke embassy Prancis. Untung aja gue buka formulir, jadi mas negro tau kalau gue mau kesana.

Gue dan mas negro sampai di embassy pukul setengah 8, dimana kantornya aja belum buka. Dan schedule gue masih jam 10. Jadilah gue dan mas negro duduk dulu di cafe sebelah untuk minum hot chocolate.

IMG-20130220-00032

Sesampai giliran gue, semua berjalan lancar. Semua dokumen gue diterima. Jam 12 urusan gue udah selesai. Dengan senyum sumringah, gue menyusuri London sendirian, yaitu ke Harrods, Tower Bridge, Alfie Vintage Market (tapi udah tutup), dan Greenwich (tapi di tengah jalan nyasar, jadi gue ke stasiun untuk pulang ke Newcastle).

IMG-20130220-00033

Antrian di pintu masuk French Embassy

Jalan-jalan ke Harrods sendirian

Jalan-jalan ke Harrods sendirian

Ke Tower Bridge sendirian

Ke Tower Bridge sendirian

Nyasar pas mau ke Greenwich

Nyasar pas mau ke Greenwich

———————————————————————————————————–

Kesialan kelima.

Saatnya pulang ke Newcastle. Gue mulai agak bete saat masuk train dan ada mas-mas yang dudukin seat gue. Gue pun bilang kalau harusnya gue duduk disitu. Ternyata kebetulan di train jadwal itu nggak ada reservation seat karena jadwalnya sedang peak. Jadi kita dibolehin duduk dimana aja dan nggak ada pemeriksaan tiket. Siaal. Gue langsung menyusuri gerbong dari coach F sampai coach A nggak ada yang kosong. Untunglah ada 1 kursi kosong di sebelah Bapak-bapak. Alhamdulillahh akhirnya bisa duduk tenang.

King's Cross Station

King’s Cross Station

Kesialan gue berlanjut. Tiba-tiba ada telpon dari ‘unknown number’ yang ternyata adalah dari pegawai embassy Prancis. Dan dia  bilang :

Based on your itinerary, you spend the same nights in Germany and France, and you enter Germany first. So you have to apply to German embassy instead of French embassy.

Di gerbong quiet coach dengan suara keras dan bergetar (karena mau mewek), gue bilang ‘There must be a mistake. I spend 5 days in France, and only 4 days in Germany’. Dan dia jawab ‘No, we count based on the number of nights instead of days’.

Untungnya gue langsung dapet ide, gimana kalau gue tetep daftar di embassy Prancis tapi itinerarynya gue ubah. Jadi, lama stay gue di Prancis bakal gue tambah. Akhirnya gue diperbolehkan untuk berbuat itu dan gue bilang tanggal 26 gue bakal kesana lagi. Hari yang melelahkan dan sia-sia.

———————————————————————————————————-

Kesialan keenam.

Tanggal 26 Februari pun tiba. Gue, Bagus, Rilla, Avie ke London di hari sebelumnya. Nginep semalem, lalu esok paginya jalan ke embassy. Semua lancar mulus, kecuali gue dan Avie yang masih bermasalah dengan itinerary. Padahal jelas-jelas gue yang bener, mbaknya aja yang salah itung hari. Daripada heboh eyel-eyelan, akhirnya gue ngalah dan urus itinerary disana. Untung ada tablet Bagus yang bisa dipake dan tempat ngeprint walaupun harganya naudzubillah cari duit banget. Rilla dan Avie yang harusnya balik ke Newcastle jam 1 siang akhirnya harus beli tiket lagi karena telat (dengan harga £80, lumayaan bokek juga ya).

Akhirnya setelah urus-urus revisi itinerary, kami berempat jalan bentar dan pulang ke Newcastle dengan bahagia.

—————————————————————————————————————

Tiga hari kemudian, gue mendapatkan ini di reception dorm gue. Alhamdulillah, perjalanan panjang menyita waktu, pikiran, duit, dan tenaga akhirnya nggak sia-sia!

IMG-20130306-00155

Foto visa disensor ya

Dan alhamdulillah juga gue dapet 2 bulan masa berlakunya, jadi siapatau summer nanti mau jalan ke eropa lagi nggak usah urus visa karena masih di bawah 2 bulan. Rilla dan Avie juga udah dapet dan mereka malah dapet 3 bulan! Yang apes banget adalah Bagus karena dia direject visanya. Kalau gue jadi dia mungkin gue udah nangis. Akhirnya dia urus lagi ke embassy Austria di Edinburgh (dengan mengubah sedikit itinerary). Moga-moga dapet visanya!

————————————————————————————————————–

Kesialan ketujuh.

Tepat saat gue menulis blog ini, gue sambil meng-cancel ke hotel-hotel yang gue booking untuk itinerary tambahan (padahal sebenarnya nggak gue datangin). Dan ternyata ada 1 hotel yang nggak bisa dicancel karena gue nggak teliti membaca cancellation policy (uang bisa kembali jika cancel 30 hari sebelumnya). Lumayaan, hilang £20, hiks.

Baiklah, itu cerita gue mendapatkan visa Schengen. Actually, the middle of March is around the corner! Sniff sniff, I could smell holiday. Let’s finish this assignments and fly to Europe mainland!

Don’t lose your hope to get Schengen Visa!

-deguitarra-

2 thoughts on “Perjalanan panjang menuju selembar visa Schengen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s