Bukan kuliah, tapi cuma ngobrol santai dengan dosen.

Jam di laptop menunjukkan pukul 00:16 GMT dan gue belum ngantuk sama sekali.

Malam ini, di tengah gue belajar Purchasing and Supply Chain Management (yang sudah cukup terdistraksi oleh blog, youtube, facebook, twitter, path, dan Amazon), tiba-tiba gue terpikir tentang perbedaan pola belajar antara mahasiswa Eropa dan Asia. Hmm.. Jadi begini menurut analisis dangkal gue.

Bukan belajar, tapi ngobrol sama dosen.

Setelah dua bulan kuliah disini, gue merasakan sesuatu yang sangat kontras antara mahasiswa dari berbagai tempat yang berbeda. Kelas gue kira-kira memiliki proporsi kira-kira : 50% China, 25% Belanda, dan 25% sisanya adalah para minoritas seperti Inggris (ini kuliah dimana, yang minoritas siapa), Jerman, Russia, Kazakhstan, Indonesia, India, Thailand, Iraq, Brunei. Dan ada poin-poin dalam sistem belajar mengajar yang cukup membuat gue sedikit terperangah disini.

Mari kita sorot mahasiswa Belanda. Dari keberadaan mahasiswa Belanda sebanyak 25% di kelas, gue bisa ngebayangin kalau mereka semua nggak ada, mungkin kondisi kelas gue sangat tidak hidup. Kenapa? Karena mereka (para mahasiswa Belanda) ini menganggap kuliah itu adalah ngobrol dengan dosen, bukan sekolah yang menegangkan. Bukan belajar dengan dosen killer. Bukan berpikiran ‘duh gue takut ga bisa ngejawab pertanyaan dosen nih‘. Bukan ‘aduh kalo gue nanya, ntar dimarahin nggak ya karena pertanyaan gue bodoh?’. Mereka menganggap dosen itu teman. Belajar jadi santai. Ngejawab pertanyaan, nyela bertanya di tengah pelajaran, bahkan protes kepada dosen kalau si dosen ngajarnya nggak enak pun bakal mereka lakukan. Dan semua argumennya cerdas. Jawaban logis. Kalau mereka protes pun memang ada alasannya, bukan sekedar bilang ‘hey your lecture material is rubbish‘.

Gue mencoba membandingkan dengan saat gue belajar S1 di Indonesia. Nggak akan ada mahasiswa yang ketika si dosen lagi nerangin tentang buku yang harus dibaca, tiba-tiba ada mahasiswa yang (dengan santainya sambil gigit-gigit bolpen dan duduk posisi miring nyender di bangku) bertanya :

Bagus nggak sih Bu bukunya? Ibu udah baca belom?‘.

Nggak akan ada mahasiswa yang protes dengan santainya ke dosen :

Pak, menurut saya slide halaman terakhir agak ngebingungin deh. Kalau Bapak tadi nggak jelasin, saya bakal ngebacanya dengan asumsi yang lain lho‘.

Atau nggak :

Pak, kenapa slidenya nggak dizoom aja. Nah.. Nah yak kayak gitu! Sip wuuuw brilliant, makasih Pak!

See the difference?

Lo nggak kontribusi, gue depak dari kelompok.

Ada lagi yang menarik dari mahasiswa Belanda. Gue saat ini ada tugas kelompok dimana salah satu teman sekelompok gue adalah mahasiswa dari Belanda. Dari awal, dia yang paling semangat ngajak ngumpul buat diskusi, nyusun strategi tugas, komunikasi di grup facebook, dan nentuin deadline progress laporan tiap minggunya. Di dalam kelompok saya ini pula ada mahasiswa dari India yang keberadaannya datang tak dijemput, pulang tak diantar. Maksudnya adalah, dia jarang datang group meeting mingguan, jarang ngasih kabar di facebook dan dropbox tentang progress laporan, dan bahkan telat ngerjain bagian laporannya. Paling males ya kalau punya teman sekelompok kayak gini. Tapi kalau berdasarkan pengalaman gue kuliah di Indonesia, jika gue punya teman sekelompok kayak gini, gue bakal negur dia. Jika nggak ngaruh walau udah ditegur, gue bakal nggak nganggep dia ada. Jadi gue nggak ngasih tugas ke dia lagi, terserah dia.

Nah ada perbedaan dengan mahasiswa Belanda. Mahasiswa Belanda yang terkenal punya sifat straight to the point dan tanpa basa basi, langsung negur dan ngedepak teman gue itu dari kelompok dan ngaduin ke dosen gue alasan dia ngedepak! Nah loh. Di mahasiswa Belanda ini juga mengajak persetujuan dari anggota lain mengenai niat dia untuk ngedepak si teman India ini. Agak tegang.

Ini kuliah. Kalau nggak bisa ngejawab pertanyaan, nanti dimarahin.

Kembali ke sistem belajar di kelas. Berbeda dengan mahasiswa China dan 25% mahasiswa minoritas, semua pendiem. Yah cuma ada 1-2 orang lah yang hobi nanya. Karena kita semua menganggap pertanyaan yang diajukan ke dosen itu harus yang berbobot lah, nggak boleh melontarkan pertanyaan bodoh lah. Gue sempet ngobrol dengan teman dari China dan Thailand tentang sistem pendidikan di negara mereka, dan jawabannya adalah mirip. Kuliah itu belajar yang formal dengan banyak peraturan, ada istilah dosen killer, pertanyaan harus yang berbobot, dan sebagainya. Itulah yang membentuk sikap kita ke depannya.

Dosen killer? Apa itu?

Maaf kalau gue terlalu cepat menyimpulkan, tapi sepertinya di Eropa ini nggak ada istilah dosen killer. Semua dosen adalah teman yang sedang cerita di depan kelas. Kalau nggak suka cara ngajar saya, tolong bilang saya nggak usah sungkan, nanti saya akan ubah sesuai yang kalian mau. Tapi hebatnya, walaupun dosennya nggak galak sama sekali, nggak ada mahasiswa yang kurang ajar seperti ngobrol sendiri di kelas. Mereka sangat menghargai orang lain.

Dosen juga nggak memaksa untuk mahasiswanya supaya mereka pintar. Maksudnya? Jadi kalau di Indonesia, tiap dosen nanya ‘ada pertanyaan?’ dan nggak ada yang nanya, kadang-kadang si dosen ngejawab ‘yaudah kalau nggak ada pertanyaan, gantian saya yang nanya’. Dan semua mahasiswa jadi tegang. Kalau nggak bisa jawab pertanyaan atau jawabannya salah, dosen bakal marah ‘Makanya nanya dong kalau nggak tau!’. Di kuliah selanjutnya, terpaksa mahasiswa mengada-adakan pertanyaan yang sebenernya nggak penting. Biar nggak ditanya balik aja. Ada yang pernah mengalami kejadian ini?

Disini, kalau nggak ada yang tanya, dia senyum dan berkata ‘Good. Everyone’s happy then‘.

(Ini cuma salah satu contoh aja sih yang ekstrim, bukan berarti gue ngejelekin sistem belajar di Indonesia lho. Dan nggak semua dosen juga killer, cuma sedikit aja).

Oiya, disini juga ada budaya break selama 10 menit tiap jamnya, entah untuk minum kopi, ngemil, ngobrol, atau ke toilet. Mereka menganggap istirahat dapat meningkatkan produktivitas dalam menyerap materi.

Tapi bagaimanapun gue bangga kuliah di Indonesia. Dan kebetulan di kampus gue kuliah S1, nggak terlalu jauh beda budayanya dengan disini, jadi gue nggak kaget. Budaya apanya? Yang pertama adalah budaya disiplin tepat waktu (walaupun cuma hitungan detik) dan yang kedua adalah sistem yang oke untuk mengakses informasi kuliah dan menghindari plagiat. Salut!

Dan sekali lagi, gue bukan beranggapan kalau sistem belajar di Eropa lebih baik atau gimana. Gue cuma membandingkan perbedaannya aja. Ada alasannya kenapa sistem belajar Asia dan Eropa beda, mungkin salah satunya adalah karena budaya Timur lebih menekankan rasa menghormati kepada orang yang lebih tua. Jadi mahasiswanya nggak terkesan (maaf) sengak kalau berpendapat. Jadi begitulah pengalaman belajar di kelas yang gue alami selama (baru) 2 bulan ini. Maaf kalau ada salah kata, cuma opini di tengah malam aja. Hohoho.

Cheers!

-deguitarra-

2 thoughts on “Bukan kuliah, tapi cuma ngobrol santai dengan dosen.

  1. Ternyata itu bedanya tooh….
    selama ini sy ingin tau gimana sih cara belajar orang eropa, berkat saudari sy bisa tau terima kasih. oohiya salam kenal sy Aditya D3-Teknik Mesin Poltek Bandung. Sy harap saudari bisa berbagi ilmu dengan saya:D. sy banyak pertnyaan sih, tp entar laaah klo udah ada respon nya. Makasih😀

  2. Halo Aditya, terimakasih udah mampir di blog saya, salam kenal juga!
    Itu cuma sedikit opini dari saya, mohon maaf kalau ada kekurangan.
    Boleh2 kalau ada pertanyaan, selama saya bisa jawab akan saya coba.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s