Good morning, Newcastle upon Tyne

September 2012, another journey of mine. Becoming a student of Newcastle University.

Pertama kalinya gue mendarat di Newcastle International Airport, kesan pertama adalah ‘Astaga. Ini angin dinginnya nggak santai’. Gue pun mengeluh sama si supir taksi bahwa hari itu dingin sekali dan dia dengan simpelnya menjawab ‘Well it’s only the beginning. So much better than in January, you’ll see snow‘.

Hello, Autumn.

Jadi saat ini di UK sedang musim gugur dimana suhu saat siang kira-kira 11 derajat, dan kalau malam 9 derajat. Hal yang gue senang dari autumn adalah fashion orang-orang (coat, boot, dan sebagainya) serta daun-daun kering yang mulai berguguran. Hal yang gue sebal dari autumn tentu saja anginnya yang super dingin, bahkan tiap mau mandi aja gue tegang. Tiap hari gue dan teman-teman di flat nyalain heater ruangan. Kalau malam harusnya kita tidur pakai duvet, yaitu semacam selimut yang ada penghangatnya. Tapi karena baru dateng dan belum sempet belanja, jadi pakai sleeping bag dulu aja yang dipinjemin sama tetangga flat. Jadi sebelum beli duvet, gue tidur pakai long john, sweater, clana training panjang, sarung tangan, kupluk, pasmina, sleeping bag, pakai heater ruangan. Dan masih kedinginan.

Hello autumn

Hello autumn

Welcome to UK!

Well, tiap negara pasti punya keunikan masing-masing. Dan inilah keunikan dari Newcastle sejauh yang sudah gue perhatikan:

1. People and their British accent

Sebelum gue datang kesini, gue mengira orang Inggris angkuh dan kaku. Tapi setelah saya sampai disini, penilaian gue terhadap orang Inggris adalah : tegas (ngomong to the point dan tanpa basa-basi), ramah (beberapa kali disenyumin sama orang lewat, tiap turun dari bus semua orang bilang thank you ke supirnya, taat aturan (kalau yang ini nggak usah dijelasin lagi lha ya), dan komunikatif. Kalau mereka memberi informasi kepada kita, mereka sangat menggebu-gebu dan harus yakin kalau kita juga ngerti. Kalau kita nggak ngerti, jangan pura-pura ngerti, lebih baik jawab apa adanya. Gue bahkan pernah telpon customer service dan mereka sangat tertata dalam memberikan penjelasan, tapi karena kemarin gue melakukan kesalahan bodoh (nanya tentang setting blackberry tapi pas mau dituntun blackberrynya masih dalam keadaan mati dan butuh waktu 15 menit untuk nyala), dia marah ke gue. Baru kali ini ada customer service marah ke pelanggannya, haha.

I bet most of you’ve known about British accent. Gue sangat senang denger aksen orang Inggris, macem Harry Potter, Keira Knightley, Adele, dan sebagainya yang sangat terdengar elegan. Your british accent is very good actually, but excuse me, can you make it slow Sir?

(FYI, Newcastle people are called Geordie)

2. Pekarangan belakang

Ada yang unik dengan flat-flat disini. Kalau di Indonesia, nggak ada pekarangan belakang. Jadi tiap rumah membelakangi rumah orang lain. Kalau disini, tiap rumah selalu punya pekarangan belakang dimana terdapat tong sampah yang akan diambil oleh petugas tiap Jumat. Jadi, ada gang yang khusus depan pekarangan, ada gang yang khusus belakang pekarangan. Ini dia supaya lebih jelas :

Gang pekarangan depan

Gang pekarangan depan

Gang pekarangan belakang

Gang pekarangan belakang

3. Self Service Shopping

Ada hal yang memalukan saat gue dan Sepun beli plum dan apel di toko swalayan Tesco Express. Saat antre kasir, tiba-tiba mbak kasir bilang ke Sepun ‘next please’ sambil menunjuk ke sebuah mesin berjudul self service shopping. Nah loh mati lo pegimane caranye dah. Gue dan sepun mencoba-coba sendiri dengan lambannya. Ternyata kita scan barcode sendiri, kita taro barangnya di tempat yang disediakan, keluar total yang harus dibayar, masukkan koin, ambil kembalian dan struk. Selesai! Gue pernah ga sengaja naro apel yang barcodenya belum di-scan di tempat yang telah disediakan itu, dan tiba-tiba keluar suara ‘Two of your purchase are not identified. Please scan the barcode before putting here’. Gila keren abis nih mesin.

4. Price for daily need

UK memang dikenal sebagai negara dengan living cost yang mahal, terutama London. Untungnya, Newcastle termasuk kota dengan harga barang murah. Contohnya adalah Poundland, swalayan yang menjual hampir semua barang dengan harga 1 Poundsterling (setara Rp 15.500), misalnya alat tulis (spidol isi 6, notes, dan lain-lain), alat makan (1 set sendok garpu pisau, gelas plastik 1 set, tempat cupcakes bergambar UK, dan lain-lain), serta makanan ringan dan segala kebutuhan sehari-hari. Ada juga Iceland dan Tesco, swalayan yang lengkap dan terjangkau. Untuk baju, ada Primark yang harganya lebih murah dibanding Marks & Spencer (starting from 10 Pounds). Kalau mau beli bekas juga ada di Oxfam (starting from 2 Pounds).

Yang cukup mahal adalah kalau makan di luar. Kalau sekedar ngopi di kafe, rata-rata starting from 2.25 Pounds udah dapet kopi hangat dan wifi gratis. Tapi kalau makan berat, minimal 6 Pounds, belum termasuk minum. Starbucks adalah tempat nongkrong yang paling enak. Northern Stage di kampus juga lumayan enak buat nongkrong dan pake wifi. Salt n Pepper enak juga pizzanya, tapi sayang nggak ada wifi. Kalau kangen rumah, bisa makan di Rasa Nusantara. Semuanya tersedia di Eldon Square, City Centre.

Untuk makanan halal, cukup banyak ditemui. Banyak tempat makan Pakistan atau India yang nggak melulu jual makanan khas mereka, tapi juga menjual makanan barat yang halal. Untuk urusan cemilan, pilih aja yang ada tulisannya ‘suitable for vegetarian’ itu katanya sih halal.

Mungkin itu dulu aja yang bisa ditulis tentang UK. Hope I can write more on the next posts.

-deguitarra-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s