Kerempongan berkomunikasi di negara asing

Siang!

Mumpung di kantor lagi ada acara ulang tahun Serikat Pekerja (jadi rada nganggur), gue sempet-sempetin nulis blog tentang kejadian lucu yang gue alami pas traveling.

Hal paling nyebelin di saat traveling di negara yang mother tongue-nya bukan bahasa inggris adalah kesulitan komunikasi (walaupun bahasa inggris gue juga nggak jago-jago amat sih), contohnya adalah China.  Di China, banyak sekali orang umum yang nggak bisa bahasa inggris, tapi yang bikin kesel adalah mereka segitu nggak ngertinya kata-kata sepele seperti ‘toilet’. Pernah temen gue yang cowok kebelet mampus dan tanya ke satpam dimana toilet, tapi mereka nggak ngerti toilet itu apa. Gue udah nyaranin temen gue, peragain aja gaya lo kencing daripada mati kebelet. Tapi untungnya temen gue yang bisa bahasa China dateng untuk membantu.

Bahkan petugas receptionist hotel gue harus berkomunikasi dengan gue via google translate. Gue ngetik di suatu situs China yang mirip google translate dari bahasa Inggris ke China. Kemudian dia menulis sesuatu dari bahasa China ke Inggris. Begitu seterusnya sampai gue bisa cetak tu percakapan jadi novel. Tapi untunglah ada 2 orang petugas yang fasih bahasa Inggris dan tiap mereka muncul gue langsung lega. FYI, lokasi hotel gue itu strategis, hanya 1 menit jalan kaki ke border antara China dan Hong Kong, harusnya pada jago ya. Mungkin karena hotel kecil.

Sebelum gue pindah ke hotel, gue sempet tinggal di apartment (sebelum akhirnya diusir polisi gara-gara foreigner nggak boleh tinggal di apartment, harus di hotel). Dan saat di apartment, gue mau minta tolong cleaning service untuk bersihin kamar. Gue udah ngasih kunci, mereka tetep aja nggak ngerti. Gue kasih tunjuk kamus Indonesia-mandarin yang artinya ‘membersihkan’ (udah ada tulisan kanjinya pula) tetep juga nggak ngerti. Duh. Akhirnya temen gue yang bernama Tyas pun ngegambar sapu dan akhirnya mereka ngerti. Haahh.. Dan pernah juga suatu ketika si cleaning service itu mencet bel kamar gue untuk nganter handuk bersih, sembari berkata “ESKUMIIII.. ESKUMII..”. Ternyata maksudnya excuse me. Sahabar bhu..

Pernah gue mau berbasa-basi dengan orang di kantor mengenai cuaca di China. Gue pun mulai berbas-bas-bus (basa basi busuk).

Gue : So, April is the best month to visit China?

Mr. X : Apple?

Gue : No no, I mean, April. The month. March, April, May..

Mr. X : Hmm… Do you want to eat the fruit? Apple?

Gue : No no, nevermind. -___-

Ada pula cerita lain di kantor. Jadi selama di China, gue pake nomer China. Dan supaya gue gampang nyari contact nama gue di HP, gue pun nulis nama contact nomer China gue itu dengan nama “Anin Cina”. Dan suatu ketika pas di kantor, ada teman kantor gue (sebut saja Miss Y) yang ngelihat contact hp gue itu dan dia berkata “Oh, you write that name so you make it simple. I see..”. Gue pun menjawab “Yeah, I wrote that to make it simple.”.

Keesokan harinya.

Miss Y : Hi, Cina !

Gue : Pardon?

Miss Y : Your name is Cina, right?

Ternyata dia ngira Cina adalah last name gue. Zzzzz..

Pernah juga ada kejadian lucu di kelas, waktu itu orang yang ngajarin gue adalah ahli Feng Shui yang lagi cerita tentang pernapasan. Waktu itu dia agak lupa bahasa inggrisnya  bernapas  itu apa. Bertanyalah dia pada gue dan temen-temen.

Mr A : Inhale, exhale. What is it called?

Gue : Breath, sir.

Mr A : Ya ya, BREAST!

Gue : Sir…

Mr A : So how long is your life depends on how long is your breast!

*hening*

Kalau di China, kemana-mana pastikan bawa tulisan nama penginapan, toilet, nama supermarket, saya tidak makan babi, dan hal penting lainnya dalam kanji China karena nggak sedikit juga orang yang nggak bisa baca bahasa latin! Nah repot kan, bahasa beda, tulisan beda, social media dibanned semua. Terkungkung deh gue kalo hidup disini nggak bisa bahasa Mandarin. Temen gue bernama Qiyam yang kuliah di Beijing waktu itu mempir ke Shenzhen karena keesokannya mau ke Hong Kong. Ketika Qiyam datang dan menginap di hotel yang sama dengan gue, terkuak sudah semuanya. Bahwasanya hanya beberapa langkah dari hotel gue adalah restoran Halal (siapa suruh nulis halal dalam kanjji China, bukannya dalam tulisan arab). Bahwasanya gue baru saja makan nasi goreng babi yang dilarang dalam agama gue. Bahwasanya gue makan daging babi campur jamur dan keju, karena gue mengira meat itu defaultnya adalah daging sapi dan ternyata di China meat itu adalah daging babi.

Yang bikin susah lagi adalah bahasa China yang harus pake nada dalam pengucapannya karena beda nada bisa berbeda arti. Sebagai contoh nama daerah tempat tinggal gue adalah Shatojiau. Kita harus menyebutkannya dengan nada khas “Sya” (nada meliuk ke atas) “to” (nada meliuk ke bawah) “ciao” (nada menukik ke atas dan ke bawah). Sulit juga ya mendeskripsikan nada dengan tulisan, hehe. Dan pada suatu ketika, gue sedang bas-bas dengan seorang rekan kerja.

Gue : Actually yesterday my friend who studies in Beijing was coming to see us. Do you know Tsinghua (gue melafalkan dengan spelling “Cinghua” tapi tanpa nada) University?

Mrs A : What? What university? I don’t know that..

Gue : Tsinghua University. I heard that it’s a famous university in Beijing.

Mrs A : OH I SEE, did you mean : “Cing” (nada menukik ke bawah dan ke atas) “hua” (nada menukik ke bawah dan ke atas) University?

Gue : Ya mane gue tauuuu nadanyeeeee *nangis di bawah pohon*

Tapi lain halnya dengan Luo Hu Commercial City. Salah satu pusat perbelanjaan di Shenzhen itu mengejutkan karena saat gue sedang milih-milih tas di salah satu toko, gue bilang dengan suara keras ke Tiwi : “Jangan beli disini Tiw, mahal”. Gue kira nggak ada seorangpun di China yang bisa bahasa Indonesia. Tiba-tiba penjualnya bilang ke gue dengan aksen Chinanya : “Ini mulah-mulah fol you laah”

Dan ketika gue menyusuri lorong di Luo Hu Commercial City, banyak penjual yang teriak ke gue dan teman-teman “ini mulah mulah”. Ternyata banyak juga orang Indonesia yang hobi belanja disana sehingga mereka belajar bahasa Indonesia sedikit-sedikit. Ada juga yang pernah tinggal di Wanlong (sebutan kota Bandung dalam bahasa China) dalam beberapa tahun sehingga cukup fasih bahasa Indonesia.

Selain China, gue juga mengalami kesulitan komunikasi negara tetangga dan serumpun dengan kita sendiri, yaitu Malaysia! Walaupun bahasanya sama, tapi beda arti dan jatohnya jadi lucu. Sesampai di bandara Kuala Lumpur, gue banyak membaca kata-kata seperti “Laluan” (artinya jalan), imigresen (imigasi), dan yang gue suka adalah kata-katanya suka disisipin ‘ha’ contohnya ‘sahaja’.

Di Malaysia mending ngomongnya bahasa Inggris aja deh. Ada satu kejadian yang bikin gue bingung gara-gara sok-sokan pake bahasa Melayu saat beli tiket. (Btw , percakapan ini udah gue tulis di blog sebelumnya yang berjudul 9 hours in Malaysia).

Gue : Mau beli tike’ nak Singapore untu’ 5 orang

Penjual tiket : Bila?

Gue : Hah? Bila?

*dan ternyata maksudnya adalah kapan”

Dan banyak juga kata-kata lucu seperti “Pintu semasa kecemasan sahaja” yang artinya “ventilation for emergency only” (sudah pernah ditulis juga di blog gue berjudul 9 hours in Malaysia). Untuk negara-negara yang sudah banyak disinggahi turis, Alhamdulillah banyak yang bisa bahasa Inggris. Apalagi Hong Kong dimana banyak TKW disana sehingga penjualnya bahkan fasih menyebutkan angka dalam bahasa Indonesia sehingga kalau tawar menawar nggak perlu pake kalkulator.

Begitulah cerita sedikit tentang kerempongan dalam berkomunikasi. Jadi pengen belajar bahasa-bahasa dunia seperti Jerman, Perancis, Jepang, Korea, Spanyol, Thailand, huaaaaaaaaaa (semuanya aja sebutin).

Okay, happy traveling!

-deguitarra-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s