Mutun Beach & Tangkil Island – Another paradise in Lampung

“Eh Nin, anak-anak pada mau ke pantai Mutun besok Sabtu. Pada mau ikutan nggak?”

Sontak gue langsung membalas bbm temen gue ini dengan wajah sumringah. Udah lama gw, Vonny, dan Fifi pengen jalan-jalan ke pantai. Tapi karena cuma ada kita bertiga, agak krik-krik juga kalau ke pantai. Jadi, kedatangan 14 bocah OJT baru ke Lampung ini memang merupakan berkah. Berkah buat jalan-jalan sekaligus EO-nya.

Sebenernya ada 3 pilihan pantai yang jadi tujuan, yaitu pantai Mutun, Kalianda resort, dan Kiluan Bay. Jadi, beginilah perbedaan ketiga pantai ini :

Pantai Mutun : Dekat dari Bandar Lampung, perjalanan kurang lebih 45 menit. Ada wahana banana boat, jetski, kano. Bisa nyebrang naik perahu ke pulau Tangkil yang nggak jauh dari sana. Tapi katanya sih, masih lebih bagus Kalianda resort dan Kiluan Bay daripada pantai Mutun karena pantai ini udah rame wisatawan.

Kalianda resort : Dekat dari Bandar Lampung, perjalanan kurang lebih 45 menit. Nggak jauh beda dengan pantai Mutun, ada wahana-wahana juga, bedanya adalah penataan bangunan yang lebih rapi dan elegan. Terutama kalau mau nginep, mungkin Kalianda menyediakan tempat penginapan yang lebih mewah dibanding pantai Mutun.

Kiluan bay : Ini dia yang dijuluki surga yang tersembunyi. Siapa sangka kalian bisa ngeliat lumba-lumba berlompatan di Samudera Hindia dari atas kapal di pagi buta? Ciri khas dari Kiluan Bay ini selain dari eksotisme pantai dan wahana-wahananya, tentu saja adalah lumba-lumba. Lumba-lumba ini keluar di malam hari dan pagi sebelum matahari terbit. Jadi, kalau ke Kiluan Bay harus nginep. Sayangnya, perjalanan ke Kiluan cukup jauh dari Bandar Lampung, sekitar 4 jam.

Melalui berbagai pertimbangan, akhirnya kita pilih pantai Mutun karena dekat, murah, dan wahananya juga lumayan seru. Awalnya kita mau sewa mobil, tapi ujung-ujungnya nyarter angkot. Awalnya kita mau makan heboh disana sambil minum degan di pinggir pantai, tapi ujung-ujungnya temen gue ada yang menjadi sukarelawan untuk masakin nasi, ayam, sayur asem, dan pempek.

Pantai Mutun

Sesampai disana, komentar pertama gue adalah : AIRNYA JERNIH BANGET ! Beda banget sama pantai-pantai di pulau Jawa yang udah banyak terjamah manusia. Dan anehnya, pantai ini adalah perpaduan antara pantai dan gunung. Jadi di belakang pantai ini ada bukit menjulang.

Pengen minum rasanya

Jadi pengen minum

Dan yang bikin gue seneng adalah ada waterboom. Walaupun sederhana, tapi seru aja main perosotan yang langsung nyemplung ke laut! Hanya dengan Rp 10.000,- saja, lo bisa sepuasnya perosotan sampe tua. Tapi nggak enaknya, begitu nyemplung ke laut, air laut neken masuk ke hidung yang bisa bikin kadar keasinan upil lo meningkat hingga 7 kali lipat.

Perosotan di pantai

Perosotan di pantai

Selain waterboom, wahana lain yang ada di Pantai Mutun adalah naik kapal ke Pulau Tangkil, banana boat, kano, dan jetski. Temen gue yang terobsesi snorkeling pun bertanya pada si petugas waterboom :

Luqman : Pak, ada snorkeling nggak?

Bapak petugas : Apa itu?

*hening*

Akhirnya, berkat obsesi snorkeling yang nggak kesampean, dan berbekal pelampung dan kacamata renang, Luqman sebagai ketua pasukan dan anggota pasukan obsesi snorkeling (gue, Vonny, Hadi, Fifi) pun renang di pantai bagian yang banyak karangnya. Karena pantai ini nggak berombak, kita pun berani renang disana. Ternyata wow! Di batu karang yang jelek aja (nggak warna-warni), banyak ikan lucu yang kita temui. Ada yang jalannya bergerombol, ada yang bentuknya kayak cicak, dan ada gurita mini. Detik itu, yang sangat gue sesalkan adalah kenapa gue nggak punya kamera yang bisa foto di bawah air??

Ada satu hal yang gue lupakan pas snorkeling. Lupa pake alas kaki! Kalau snorkeling beneran, biasanya pake sepatu katak. Tapi karena ini snorkeling boongan, kita ke batu karang tanpa alas kaki apa-apa. Alhasil, di tengah lagi jalan di atas batu karang (di dalam air), tiba-tiba telapak kaki berdarah kesayat batu karang yang runcing. Udah berdarah, kena air asin. Rasanya kayak lagi sariawan terus dicekokin cabe rawit. Dan saat itu, gue berharap nggak ada ikan hiu mencium keberadaan darah dari kaki gue.

Setelah telapak kaki penuh luka sayatan dan lutut Fifi penuh borok (ini habis snorkeling atau gelut sama kampung sebelah?), akhirnya kita semua makan makanan yang udah dibikinin sama ibunya si Tuti. Huwaa sedap banget nasi, ayam goreng, sama sayur asemnya. Habis makan nasi, kita makan cemilan-cemilan lucu. Lalu kita mulai lagi petualangan selanjutnya. Berlayar ke pulau sebelah.

Pulau Tangkil

Pulau Tangkil adalah pulau tak berpenghuni yang terletak nggak jauh dari pantai Mutun. Mungkin dari pantai Mutun sekitar 5 menit naik kapal.

Pulau Tangkil

Pulau Tangkil

Gue kira, pulau Tangkil bakal lebih bersih dibanding Mutun karena lebih jarang diakses oleh manusia. Tapi ternyata di pantainya banyak sampah, walaupun airnya masih jernih banget sih. Cuma pantai di pulau Tangkil ini lebih bahaya dibanding di Mutun, baru jalan di pantainya aja udah langsung airnya seleher (seleher gue = sedada pria = sepinggang Hadi). Dan di pinggir pantai udah ada papan peringatan “DANGER” bergambar tengkorak yang membuat bulu kuduk gue berdiri malu-malu. Tiba-tiba temen gue mengusulkan untuk naik banana boat disini dibanding di pantai Mutun, karena kalau di Mutun dijatuhin dari banana boat di bagian yang banyak karangnya. Ngeri juga kan kalau malah nabrak karang yang tajem. Jadi kita pilih naik banana boat disini.

Dengan Rp 25.000,- per orang, kita bisa naik banana boat 3 kali puteran dan terserah mau dijatuhin berapa kali sesuai permintaan. Dengan kapasitas 5 orang per boat, akhirnya kita pun dibagi 2 kloter. Gue dan pasukan 3 cewek 2 cowok ikut kloter pertama. Tapi mungkin karena kebanyakan cewek dan para cewek lebay teriak-teriak sepanjang di atas boat (terutama gue), jadi dijatuhinnya nggak terlalu di tengah laut. Tentu aja kita dilengkapi pengaman berupa pelampung dan helm. Helm yang gue pake warna biru sehingga gue menjulukinya helm Smurf (nggak penting).

Mulai berangkat. Tegang..

Mulai berangkat. Tegang..

Mamaaa, aku naik pisang, mamaaa!

Mamaaa, aku naik pisang, mamaaa!

Selama di atas banana boat gue selalu berpikir yang aneh-aneh. Gimana kalo belum saatnya jatuh, tiba-tiba gue jatoh sendirian trus nggak ada yang sadar? Terus gimana kalo gue ditinggal sendiri dan terseret ke pulau tak berpenghuni? Gimana kalau ternyata di tengah ada ikan hiu? Gimana kalau pelampungnya kempes gara-gara berat badan gue lagi naik?

Tiba-tiba jetski yang narik kapal gue nukik belok kanan. Gue mulai curiga. Gue memperkencang pegangan tali di atas kapal. Gue mau berusaha pegangan terus apapun yang terjadi, kalo bisa nggak jatoh! Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Pisang gue kebalik.

Pisang kebalik

Pisang kebalik

Tiba-tiba dalam waktu sepersekian detik gue merasakan sensasi slow motion di dalam laut. Di telinga gue cuma kedengeran suara deburan air. Sejenak gue bertanya pada diri sendiri, siapa aku? (mulai lebay). Dalam keadaan sok nggak tegang, gue mencoba rileks dan tiba-tiba gue ngambang ke atas. Pertama yang ada di pikiran gue adalah dimana temen-temen gue? Apakah semuanya selamat? (mulai lebay). Gue melihat Luqman dan lagi ber-wohoo ria. Vonny lagi sibuk benerin kerudungnya yang hampir lepas. Dan gue melihat ada 2 helm ngambang di atas. Gue mulai tegang. Gue melihat sekeliling mencari dua temen gue yang lain. Ternyata kedua temen gue lagi ketawa-ketawa sumringah. Gue megang kepala. Helm smurf gue ilang. Ternyata itu helm gue dan Vonny yang copot.

Luqman lagi gaya punggung. Gue lagi ngeluarin ingus. Vonny benerin kerudung. An Nuur dan Purwanto bersenda gurau.

Luqman lagi gaya punggung. Gue lagi ngeluarin ingus. Vonny benerin kerudung. An Nuur dan Purwanto bersenda gurau.

Sebelum naik lagi ke atas banana boat, gue berkecipak-kecipak rileks sambil liat ke langit. Haah, damai sekali rasanya. Setelah 1 menit, kita pun naik lagi ke atas banana boat. Sebelum naik, gue iseng bertanya ke petugas di jetski.

Gue : ” Pak, emang ini kedalamannya berapa meter?” (masih sambil berkecipak-kecipak rileks dengan gerakan pelan yang anggun)

Petugas : “Disini mah cetek..”

Gue : ” Hoo.. Berapa meter emangnya?

Petugas : “Palingan 10 meter”

Gue : (Berkecipak-kecipak cepat karena panik)

Wajah bahagia

Wajah bahagia

Kita pun naik lagi ke banana boat untuk diputer-puterin lagi dan dijatohin lagi. Total dijatohin 2 kali, dan di jatoh yang kedua, gue merasa kehantam sesuatu dua kali. Kayaknya gue pas jatoh disamber sama Vonny dan Luqman yang ada di belakang gue deh. Encok dikit gapapa lah yaa, yang penting puas banget dan bahagia!

Setelah puas banana boat, gue Vonny, dan An Nuur mengikuti Luqman snorkeling boongan lagi di pulau Tangkil, tentu saja bukan di bagian “danger”. Tapi karena nggak ada karang, kita nggak nemu banyak ikan. Yang gue liat cuma tumbuhan dan bunga laut, kerangka payung karam, dan plastik-plastik sampah.

Setelah Bapak pemilik kapal datang menjemput dan mengantar balik ke Pantai Mutun, maka inilah waktunya makan pempek! Horeeee.. Setelah makan pempek, kita renang lagi di waterboom. Tapi bedanya, kalau sekarang ada yang jaga di bawah perosotan buat ambil foto orang yang lagi hampir nyemplung ke laut dari perosotan. Horeeee.. Setelah puas main perosotan, lagi-lagi gue dan pasukan snorkeling memburu ikan di batu karang yang membuat kaki makin bersayat. Pukul 15.30, gue dan temen-temen akhirnya mandi, sholat, dan menunggu angkot menjemput untuk kembali ke Panjang.

Liburan hari ini gue sangat super duper senaaaaang banget. Walaupun sampai di rumah harus jalan terpincang-pincang dan telapak kaki penuh betadine, tapi gue sangat senang. Kapan-kapan gue harus bisa dateng ke Kiluan Bay untuk lihat lumba-lumba! Dan tentunya ke pantai-pantai lain di Indonesia dan di dunia. Hohohoho..

Salam,

-deguitarra-

13 thoughts on “Mutun Beach & Tangkil Island – Another paradise in Lampung

  1. Nai : Nggak bisa Nai!!! Itu gw di samping Vonny, nggak bisa jadi perbandingan! *ngeles*. Eh lo ada acara nggak nanti tanggal 28-29 Januari?

    Febi : Waa terimakasiih, moga2 bermanfaat yaa hehe😀

  2. Wah, saya baru tahu ada waterboom di mutun. Pas saya kesana gak liat. Bisa snorkeling juga ya…
    Minggu depan saya ikutan nerbitin tulisan dan foto-foto ttg mutun juga ah.
    Salam kenal,

  3. Pingback: Beautiful Landscape of Mutun Beach and Tangkil Island – part 1 of 3 : The Coast | Blog Kemaren Siang

  4. Iyaa ada perosotan sederhana mirip yang ada di waterboom, tapi sayangnya untuk snorkeling belum ada yang menyediakan fasilitas peralatannya.. Selamat menulis tentang Mutun..

  5. Pingback: Beautiful Landscape of Mutun Beach and Tangkil Island – part 2 of 3 : The Sea | Blog Kemaren Siang

  6. Pingback: Beautiful Landscape of Mutun Beach and Tangkil Island – part 3 of 3 : The Island | Blog Kemaren Siang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s