Roma tidak dibangun dalam semalam.

Pagi !

Minggu pagi, gw terbangun dengan aroma lontong sayur yang ada di dalam kamar. Hmm..setidaknya hari ini menu sarapannya masuk akal, nggak kayak kemarin yang bentuknya ketan ditabur kelapa tapi dikasih sambel terasi. Masih di balik selimut sambil menggeliat dan melihat ke jendela, gw mengambil tablet gw dan mengecek timeline twitter (anak jaman sekarang sesuatu yah). Ada tweet dari TropicanaSlim yang isinya “Biasanya apa yang kamu lakukan sehabis bangun?”. Gw awalnya mau menjawab “gelendotan di kasur sambil ngemil dan cekikikan ngegosip via whatsapp”. Tapi karena gw takut di-report as spam sama TropicanaSlim, gw pun mengurungkan niat. Gw jawab : “Nonton film seri sambil minum teh hijau🙂 “. Dan sekarang gw sedang menunggu TropicanaSlim bakal ngereply apa. Atau mungkin nggak direply karena jawabannya basi.

Minggu pagi adalah kelanjutan dari Sabtu Malam, dimana menurut gw bagian ini adalah hari-hari terbaik dalam satu minggu. Sabtu malem biasanya gw isi dengan pacaran marathon film seri, lalu blogging sambil dengerin musik, sambil minum kopi anget yang asapnya masih mengepul, sambil chat sama temen. Dan yang terpenting adalah menyadari bahwa besok masih Minggu. Ah andai saja gw tinggal di apartemen sendirian, gw bisa nulis dengan kaca jendela terbuka dan kelihatan lampu-lampu jalan dan mobil yang berisik dari ketinggian. Hah, menyenangkan sekali ya.

Oke, gw sekarang mau nulis tentang hidup. Biasanya, tiap malem sebelum tidur gw selalu terkena virus yang lagi ramai mewabah di Indonesia. Yap, galau. Biasanya di tengah malam, kalau udah memasuki waktu Indonesia bagian galau, yang akan terjadi adalah bantal gw jadi basah (bukan, itu bukan karena iler). Tapi kita semua tau, kalau kita kena penyakit, lama-lama akan kebal sendiri. Dan gw selalu ingat pesan Bokap gw.

“Walaupun gw cuma cewek, tapi bukan berarti gw manja. Gw harus kuat, dimanapun itu, sejauh apapun sama orang tua, setidak enaknya kondisi kita. Jangan ngeluh. Jangan terlalu menggantungkan hidup sama orang.”

Baiklah.

Mari lupakan sejenak tentang galau, daripada gw terserang penyakit ini lebih pagi dari yang sewajarnya. Mari kita ngobrol tentang hidup menyenangkan.

Sejauh ini, menurut gw hidup yang paling menyenangkan bagi gw adalah Trinity Traveler. Jalan-jalan, nulis, dapat upah nulis, uangnya buat jalan-jalan lagi, nulis, dapat upah nulis, dan seterusnya. Traveling and writing for life, WHOAA ! Tapi gw salut sih sama mbak yang sangar satu ini, dia sejak kuliah memang hard worker, mau nyambi kerja dimana aja dan hasil uangnya untuk backpacking ke Eropa. Dan di umur yang masih muda, dia udah menjelajah 46 negara dan kebanyakan sendirian.

Hmm.. Gw pun mulai menulis apa yang pengen gw lakukan sebelum nikah. Gw pengen traveling, gw pengen tinggal di apartemen sendirian di Jakarta, gw pengen kerja di tempat yang sesuai dengan passion, gw pengen nulis macem-macem, gw pengen S2 di Eropa, gw pengen belajar tentang bidang ini, dan lain-lain. Gw saat ini belum melakukan usaha apapun untuk mencapai semua cita-cita gw karena hidup gw masih berantakan (menurut gw). Dan sepulang dari Lampung, gw ingin membenahinya satu-satu.

Di suatu malam yang galau, gw pernah bertanya sama salah satu temen gw :

“Eh, apa yang lo lakukan kalau kenyataan nggak sesuai dengan keinginan?”

Dan dia menjawab :

“ikhtiar dan tawakal. Sebelumnya ini terdengar klise ya. Tapi ini memang yang lagi gw lakukan. Gw akan find out, what’s wrong with me sih? Dan satu-satu dibetulin. Dan ini nggak mungkin instan. Roma tidak dibangun dalam semalam. Apa yang dibangun instan pasti ilangnya juga instan.”

Itu baru kalimat pembuka, dan kelanjutannya masih panjang tentang segala macam nasihat wejangan dan quotes lainnya yang membuat gw makin bangkit. Kata-kata yang sampai saat ini terngiang-ngiang di benak gw adalah Roma tidak dibangun dalam semalam. Nggak usah panik dan terburu-buru. Sejak saat itupun gw berambisi untuk membenahi satu-satu apa yang nggak beres dalam diri gw. Hey, masalah nggak akan selesai kok dengan menangisinya tiap malam, bergalau, dan terus-terusan bertanya pada diri “kenapa ini terjadi pada gw?”. Jangan terus-terusan menyesali, cari jalan keluarnya. Dan percaya kita punya Tuhan yang akan melihat usaha dari tiap hamba-Nya.

Tapi ada batas juga dimana kita harus bisa nerima apa yang harus jadi kenyataan kita. Gw sering bertanya pada diri gw sebelum tidur, “sampai kapan kita harus berusaha? Gimana kalau ini memang sudah jalan kita dan sudah saatnya kita harus merelakan yang bukan menjadi jalan kita?”.

Itulah yang masih gw belum ngerti sekarang. Kapan kita harus ikhlas dan merelakan apa yang kita inginkan untuk pergi? Saat ini, yang jelas gw pengen usaha untuk mencapai apa yang menjadi keinginan gw dalam hidup (sebelum nikah). Mungkin di perjalanan nanti, gw bakal nemu sendiri apa arti ikhlas dan gimana cara gw ngehadapinnya.

Selamat menikmati Minggu pagi,

-deguitarra-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s