Backpacking ke Palembang

Malam!

Wong kito galau galo!

Hari ini gw mau cerita tentang pengalaman gw dan Vonny backpacking dari Lampung ke Palembang. Awalnya, kita berdua berencana backpacking ke Pulau Bangka (atau sampai ke pulau Belitung sekalian), tapi sayang waktunya nggak sempet kalau cuma mengandalkan weekend aja. Karena ke Palembang (hanya) menempuh waktu 9 jam, maka gw dan Vonny memutuskan untuk backpacking ke Palembang aja.

Oiya, ini dia rute awal yang udah direncanakan (moga-moga keliatan) :

Pulau Bangka

Pulau Bangka

Lampung – Palembang : 9 jam (naik kereta / travel)

Palembang – Pulau Bangka (Mentok) : 3 jam (naik jetfoil)

Mentok – Pangkal Pinang : 6 jam (naik bis umum)

Pangkal Pinang – Sungai Liat : 45 menit

Bayangkan sekali perjalanan harus menempuh sekitar 19 jam, pasti bakalan encok semua badan dan juga waktunya nggak cukup. Sehingga dengan berat hati gw dan Vonny mengurungkan niat melihat pantai-pantai yang super indah di daerah sungai liat pulau Bangka. Belum lagi ke Pulau Belitung yang merupakan tempat syuting Laskar Pelangi, kebayang kan daerahnya benar-benar alami banget. Dan kalau di Pulau Belitung, katanya kita bisa keliling-keliling naik sepeda dan juga bisa ngunjungin rumah para pemain Laskar Pelangi *sembari membayangkan si Ikal dan Bu Muslimah*. Kapan-kapan ya Bangka & Belitung..

Baiklah, kembali ke Palembang.

Jadi, gw dan Vonny memutuskan untuk naik travel ke Palembang. Ada 3 alternatif yang bisa dipilih untuk pergi ke Palembang pada hari Jumat malam dengan kondisi nyaman, yaitu :

1. Kereta api eksekutif (berangkat pukul 9 malam) : Rp 120.000,-

2. Kereta api bisnis (berangkat pukul 9 malam) : Rp 75.000,-

3. Travel (berangkat pukul 7.30 malam, dijemput dan diantar langsung ke tempat tujuan) : Rp 165.000,-

Awalnya, gw dan Vonny berniat naik kereta api eksekutif. Tapi karena kalau beli tiket kereta eksekutif nggak bisa tepat hari H, maka gw dan Vonny memilih naik travel pada Jumat malam. Ternyata jalur Trans Sumatra lebih menyeramkan daripada jalur pantura yang selalu gw lewatin setiap mudik ke Semarang dan Solo. Jalur trans Sumatra lebih sempit, gelap, dan jalannya bergelombang. Apesnya lagi, gw dan Vonny kebagian duduk di depan, sebelah supir. Jadi, setiap gw mau tidur, gw selalu terbangun dalam keadaan tegang gara-gara si supir travel lagi kebut-kebutan sama truk yang ada di sebelah kiri gw persis. Tapi kalau nggak tidur, gw tiba-tiba ngelihat ada Bapak-bapak lagi jalan di sebelah kiri jalan di jalan yang super gelap dan cuma ada lapangan luas di kanan kiri, yang membuat gw berpikir yang aneh-aneh. Tegang.

Akhirnya pukul 4.00, travel sudah memasuki wilayah Palembang. Dan beruntunglah, gw dan Vonny melihat jembatan Ampera yang megah dengan lampu-lampunya yang terang. Gw dan Vonny sampai di kosan temen gw (Tiwi, widya, untek) di daerah Dempo pada pukul 4.30 pagi, setelah travel berputar-putar nyasar. Dan dari sinilah perjalanan di kota Palembang dimulai..

1. Pempek Beringin

Rasanya berdosa kalau nggak makan pempek di Palembang. Ternyata kalau di Palembang, pempek bagaikan gorengan yang dijual di Surabaya atau batagor yang dijual di Bandung. Ada dimana-mana! Beruntung kosan mereka ini dekat dengan salah satu pempek yang terkenal enak di Pelambang, yaitu Pempek Beringin.

Pempek campur

Pempek campur

Pempek bakar

Pempek bakar

Otak-otak

Otak-otak

Buat yang lagi jalan-jalan ke Palembang, pempek adalah makanan asli Palembang yang wajib hukumnya untuk disantap. Dan pempek Beringin ini adalah salah satu pempek yang terkenal enak. Nggak heran, karena di dalamnya banyak dipajang foto-foto artis yang makan disana.

Pempek Beringin

Jl. Lingkaran I No. 20/B 9 Ilir (Dempo Luar) Palembang

Harga per satuan : Rp 3000,-

2. Pulau Kemaro

Setelah kenyang sarapan di pempek Beringin, kita pun lanjut ke pulau kecil yang nggak jauh dari Sumatera Selatan dan ada di sungai Musi, yaitu pulau Kemaro. Ada dua pilihan untuk menuju ke pulau Kemaro, yaitu dengan speedboat atau dengan perahu getek. Untung ada Hafni, temen gw yang sudah 6 bulan tinggal di Pelambang dan sudah pernah ke Pulau Kemaro sebelumnya, jadi dia tahu biaya wajar speedboat untuk menuju ke pulau Kemaro. Setelah Untek berdebat dengan tukang perahu dengan logat sok-sokan nada Belitong, kita berenam berhasil dapet speedboat denga harga Rp 120.000,- . Perjalanan ke pulau Kemaro kira-kira menghabiskan waktu sekitar 20 menit.

Perjuangan masuk ke speedboat

Perjuangan masuk ke speedboat

Jembatan Ampera dilihat dari speedboat

Jembatan Ampera dilihat dari speedboat

Walaupun di tengah sungai ada insiden mesin perahu mati dan sempet curiga kalo tukang speedboatnya kabur (nggak mungkin), tapi kita sampai di Pulau Kemaro dengan senang soalnya nggak ada pengunjung lain selain kita! Ternyata di Pulau Kemaro cuma ada satu buah Pagoda yang besar dan beberapa patung Budha serta tokoh-tokoh Budha seperti yang ada di Kera Sakti. Ada Go Kong, Patkay, Guru, Dewi Kwan im, dan ada pula lukisan-lukisan kecil yang menggambarkan shio kita.

Pagoda

Pagoda

Foto bareng patung-patung Budha

Foto bareng patung-patung Budha

Banyak daun berguguran kayak musim kemarau

Banyak daun berguguran kayak musim kemarau

Patung Budha

Patung Budha

Setelah puas sejam foto-foto, gw berenam kembali ke perahu speedboat dan mendatangi si tukang speedboat yang sedang menunggu sambil makan gorengan.

3. Foto-foto di depan Benteng Kuto Besak dan Jembatan Ampera

Setelah kembali dari Pulau Kemaro, gw berenam berencana makan siang di PS (Plasa Senayan Palembang Square). Awalnya mau ke PIM (Pondok Palembang Indah Mall) yang lebih besar, tapi akhirnya kita ke PS karena arahnya sejalan. Sebelum naik angkot menuju PS, kebetulan banget di depan gw ada Benteng Kuto Besak. Tapi yang menarik perhatian gw bukanlah isi dari bentengnya, melainkan tulisan Benteng Kuto Besak yang super gede di depannya. Benteng Kuto Besak terletak di seberang Sungai Musi, jadi disitu gw sekalian foto di depan jembatan Ampera.

Di depan Benteng Kuto Besak

Di depan Benteng Kuto Besak

Depan jembatan Ampera

Depan jembatan Ampera

Sebenarnya, foto di depan Ampera bakal lebih seru lagi kalau malem karena lampu jembatannya bagus banget. Jadi, gw mengurungkan niat berfoto heboh dengan seribu gaya di depan ampera. Energinya harus disimpan buat nanti malam.

Di dekat Benteng Kuto Besak ini ada museum Badaruddin II. Sebenernya gw dan Vonny penasaran berat pengen kesana, tapi karena waktunya nggak cukup jadi kita langsung bablas ke PS. Kapan-kapan ya, museum..

4. Makan dan karaoke di Palembang Square

Palembang Square

Palembang Square

Setelah puas jalan-jalan ke tempat khas dan makan makanan khas, sekarang saatnya gw berenam wisata modern, yaitu makan di Solaria dan karaoke di Nav 2 jam. Setelah puas dan kenyang teriak-teriak, kita pun sholat maghrib di masjid Agung Sultan Badaruddin II yang merupakan masjid terbesar di Sumatera Selatan.

5. Sholat di Masjid Agung Sultan Badaruddin II Palembang

Pose di depan air mancur masjid

Pose di depan air mancur masjid

Menara masjid Agung

Menara masjid Agung

Air mancur tengah kota yang ada di sebrang Masjid Agung

Air mancur tengah kota yang ada di sebrang Masjid Agung

Setelah sholat dan foto-foto, gw melihat sekelebat tempat makan yang rasa-rasanya pernah gw tau cukup populer di Palembang, yaitu Martabak Har! *seketika tegang*

6. Martabak Har

Setelah konsultasi dengan Ebong sebagai warga asli Palembang via bbm, gw pun makin semangat untuk makan di Martabak Har yang terkenal itu. Ini dia bentuk martabaknya.

Martabak Har yang penuh telor dan diberi kuah kari

Martabak Har yang penuh telor dan diberi kuah kari

Beda dengan martabak yang dijual di Jakarta, martabak ini penuh telor sehingga lebih mirip roti dadar. Martabak ini juga diberi kuah kari dan sambal kecap yang seru. Patut dicoba deh buat kalian yang lagi liburan ke Palembang. Harga per porsinya adalah Rp 12.000,- saja. Lokasinya ada di depan Masjid Agung.

7. Pempek Vico

Sebelum ke pempek Vico, sebenernya tujuan utama kita nunggu di tengah kota adalah foto di depan Ampera di malam hari. TAPI APES BANGET, AMPERA YANG SETIAP MALAM SELALU NYALA LAMPUNYA, MALEM ITU AMPERANYA NGGAK NYALA DONG! BABSKIIII ! Jadi dengan gontai, gw dan yang lainnya singgah di pempek yang juga terkenal di Palembang, yaitu Pempek Vico yang berlokasi di ruko seberang PIM.

Pempek Vico

Pempek Vico

Ternyata memang sesuatu banget!

Dan kalau disini, lo wajib hukumnya minum es kacang merah yang ENAK BANGET bentuknya seperti ini :

Es Kacang Merah

Es Kacang Merah

Jadi, konon katanya, pempek yang enak di Pelambang itu adalah pempek Candy, pempek Vico, dan pempek Beringin. Jadi wajib hukumnya untuk makan pempek disini dan minum es kacang merahnya. Selain itu, di pempek Vico juga ada layanan pengiriman pempek (kerjasama dengan JNE). Jadi, mumpung gw udah di Palembang, gw beli satu kotak isi 40 biji yang gw kirim ke rumah gw di Surabaya. Praktis kan..

Kalau mau mampir kesini, datang aja di pempek vico depan PIM.

Harga pempek per buah Rp 2500,-

Harga Es Kacang Merah Rp 9000,-

8. Pempek Dempo

Setelah kenyang, kita naik becak pulang ke kosan Widya Tiwi Untek untuk istirahat. Sampe kosan, gw langsung mandi dan tidur supaya nggak kena encok. Paginya, gw dan Vonny dijemput travel untuk ke Lampung. Dan sebelum dijemput, kita berdua makan dulu di pempek Dempo. Enak juga, tapi lebih mahal dibanding pempek Vico dan Beringin. Per buahnya Rp 4000,-.

Nah, di dekat pempek Dempo itu ada toko Manis yang merupakan minimarket (tapi nggak semodern Alfamart atau indomaret). Di toko Manis itu ada mie Korea yang enak banget! Gw dan Vonny beli 3 bungkus untuk dimasak di Lampung. Harganya sekitar Rp 9000,- hingga Rp 11.000,-. Ada yang rasa mushroom, seafood, dan beef.

Mie Korea dengan berbagai pilihan rasa. Tak borong ah..

Mie Korea dengan berbagai pilihan rasa. Tak borong ah..

Mie korea kuahnya nendang!

Mie korea kuahnya nendang!

Baiklah, mungkin itu dulu cerita gw tentang backpacking di Palembang. Walaupun masih ada misi di Palembang yang belum sempet kekejar (foto di Ampera malam hari, makan mie celor 26, makan di samping sungai Musi, dan ke museum Sultan Badaruddin II). Semoga kapan-kapan gw bisa jalan-jalan ke daerah lain dan mengeksplor sesuatu dari sana. Amiiin..

Salam,

-deguitarra-

-deguitarra-

14 thoughts on “Backpacking ke Palembang

  1. Hai salam kenal,
    Seru ya jalan-jalannya. Thanks infonya, bisa jadi referensi buat yg baru pertama kali ke palembang seperti saya.
    Kalo ke jogja mampir2 ye.
    @iyesimut

  2. @Asop : Beuuh, pempeknya endang bambang soop! Kalo ke palembang, wajib makan pempek ya😀

    @iyesimut : Salam kenal juga yaa😀.. Waaa jadi pengen main2 ke Jogja nih, ke candi2nya hehee

  3. iri bgt gw nin gk bs ojt dan jalan2 ama kmu vonny dkk….😦
    skrg lg ojt di Panjang, Lampung rasanya gk enak, gak seru😐

  4. Assalamualaikum
    Hai salam kenal
    Wah seru ya di Palembang ^^
    Tapi itu yang dinamain pempek bakar sebenernya namanya Pempek Panggang🙂 *walopun dibakar haha
    Satu lagi pempek yang terkenal di Palembang itu Pempek Pak Raden, tapi kalo mau makan pempek yang enak banget dan murah meriah ada di daerah pasar 26, namanya pempek Aan🙂 di daerah sana banyak banget yang jual pempek haha emang pempek menjamur sih disini , cobain juga model, tekwan, laksan, burgo, lakso, celimpungan, mie celor, pempek lenggang, pempek kapal selem, kroket asli palembang loh, mantap pokoknya haha

  5. Kapan ke palembang, ntar aku temenin muter2 buat nikmati palembang lebih jauh lgi dri curhatan mu di atas
    Hehe

  6. haii salam kenal saya nisa dan rencana besok maret mau BP palembang butuh porter warga asli palembang niih buat nemenin hari” saya. ada yg punya refrensi….?
    thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s