Wisata kuliner dan Museum Lampung (Part 1)

Halo !

Sebelum weekend akan berakhir 3.5 jam lagi, buru-buru gw upload foto dan tulis hasil dari jelajah Lampung sejak kemarin bareng temen gw, Vonny dan Fifi. Tapi, sebelum gw cerita, gw bakal jelasin dulu tentang dua orang temen tualang gw selama di Lampung.

Vonny

Kuda

Kuda

Panggilannya kuda. Jangan sampe dia foto bareng pilar, tiang, atau sejenisnya, karena pasti orang yang ngeliat hasilnya bakal komentar “lo yang mana von??”. Ukuran pahanya setengah dari gw (jadi minder kalo lagi di sebelah Vonny, gw berasa kayak manusia gepeng). Orangnya SUPER SUNGKANAN. Kalo ada orang yang menganggap gw sungkanan atau nggak enakan, berarti Vonny dua kali lipat dari gw. Orangnya ceria banget, tapi kalo ketawa kayak kuda.

Alfian Fifi

Fifi

Fifi

Sunda banget dan tiap ngomong selalu diakhiri dengan ‘anying’. Benci museum. Pokoknya jangan ajak dia ke museum. Kalo dia keliatan gelisah, marah-marah, caranya gampang : beri saja dia makanan. Jadi ikut-ikutan sungkanan gara2 berkumpul dengan wanita-wanita sungkanan macam gw dan Vonny.

Baiklah, mari kita mulai cerita intinya..

Jadi, kemaren Sabtu dan Minggu ini adalah weekend pertama gw di Lampung. Lampung adalah kota yang punya banyak tempat wisata, seperti Pantai Mutun, Kiluan Bay, Way Kambas, Arung jeram mini, dan lain-lain. Tapi sayangnya itu jauh dari kota Bandar Lampung. Kalau mau kesana harus naik mobil pribadi atau mungkin sewa mobil, atau carter angkot (hiks). Jadi, weekend pertama ini diputuskan untuk wisata kuliner dan tempat budaya yang ada di kota Bandar Lampung dan bisa dicapai dengan menggunakan angkot. Oiya, sebelum cerita tentang pengalaman di hari Sabtu, gw ada fakta selingan tentang angkot-angkot Lampung.

Jadi, menurut pengalaman gw, hampir semua angkot di Lampung punya soundsystem yang kenceng banget dan berada di belakang. Lagu yang diputer kalo nggak dangdut koplo ya lagu band alay. Tapi herannya, sekecil apa suara gw bilang “MINGGIR”, itu tetep kedengeran!

Selain itu, angkot disini tergolong baik, cukup mirip sama di Bandung. Disini, supir angkot bakal ngejelasin detail ke penumpang yang nanya jalan ama dia. BAHKAN, gw pernah tu turunnya kelewatan. Taunya, si supir puter balik dan nurunin gw bertiga di tempat tujuan! Terkadang, si supir tiba2 ngasi pengumuman ke penumpangnya “bentar ya, mau anterin si ini dulu kesana”. Kadang2 jadi bingung, ini angkot apa taxi.

Oke, sekarang gw mau cerita tentang pengalaman gw di hari Sabtu. Jadi, sebelum berangkat jalan-jalan, gw dan Vonny cari informasi kesana kesini tentang kuliner dan tempat budaya yang seru di Lampung. Gw dan Vonny cari di internet, tanya Galuh & Ardi (temen Teknik Industri yang dari Lampung. Makasi banyak ya buat infonya🙂 Really helping), dan temen2 kantor yang udah ditugasin ke Lampung sebelumnya (Tyas, Renny, Untek, Sepun, Dadan), dan ibu-ibu penjaga hotel serta mas-mas rekan kantor disini. Setelah diiriskan dan didiskusikan, inilah tempat-tempat yang kami datengin.

1. Central Plaza dan Mall Kartini

Sebenernya tujuan gw dateng kesini adalah benerin Blackberry gw yang rusak. Tapi akhirnya sekalian jalan-jalan di mall sebentar. Dua mall ini letaknya nggak jauh (kira2 cuma berjarak 300 meter) dan ada dalam satu barisan di Jalan Kartini. Dari daerah Panjang, gw naik angkot Orange ke arah terminal Teluk, trus nyambung naik Damri yang ke arah Karang.

2. Pempek 56

Ternyata di Lampung juga banyak pempek yang enak. Ada pempek 123, pempek 55, pempek 56, pempek 91, dan masih banyak lagi pempek numerik lainnya. Setelah gw tanya sana sini dan berdasarkan sumber dari internet, yang paling enak sih katanya Pempek 56.

Berpose di depan plang itu adalah kewajiban

Berpose di depan plang itu adalah kewajiban

Selain berbagai macam pempek, disini juga dijual tekwan (pempek rebus berkuah), model, dan kripik pisang oleh-oleh khas Lampung. Gw pesen pempek berbagai jenis dan es campur. Vonny pesen tekwan, pempek, dan es jeruk. Setelah dicoba, hmmmmm pempeknya endang, cukanya bambang!!!

Pempek keriting, kapal selam, dan irisan

Pempek keriting, kapal selam, dan irisan

Kalo berminat mau dateng kesini, mudah saja. Berikut adalah infonya :

Pempek 56

Jl. Salim Batubara No. 56 (Daerah Kupang) Teluk Betung

Harga pempek per buah : Rp 3500,-

Kapal selam besar dan tekwan : Rp 15.000,-

Karena saking banyaknya pempek betebaran disini, gw jadi penasaran mau coba yang lainnya minggu depan.

3. Museum Lampung

Tiap gw tanya ke ibu-ibu di pinggir jalan atau anak sekolahan tentang keberadaan museum Lampung, selalu tanggapannya “eh tapi jauh lho mbak” atau “ngapain ke museum?”. Mungkin besok gw harus pasang tulisan ‘KAMI PELANCONG’ di jidat. Mumpung Fifi lagi disuruh bosnya pergi ke kantor, jadi gw dan Vonny bisa leluasa foto-foto ke museum. Setelah berganti2 angkot sebanyak sedemikian sehingga, gw dan Vonny pun sampe di museum dan.. TUTUP! Untungnya diluar museum masih ada objek-objek yang bisa difoto.

Vonny bersama Museum Lampung

Vonny bersama Museum Lampung

Berpose dengan rumah adat Lampung

Berpose dengan rumah adat Lampung

Dinding berhiaskan ukiran khas Lampung

Dinding berhiaskan ukiran khas Lampung

Kalau ada yang mau berkunjung ke Museum Lampung, dateng aja ke :

Museum Lampung

Jalan Teuku Umar, Bandar Lampung

Setelah dari Museum Lampung, kami langsung pulang berhubung rambut gw yang sudah semakin terbang dan muka kita yang semakin oily. Sesampai di rumah, kita langsung menyiapkan rencana untuk jalan-jalan bertiga di hari Minggu.

Salam,

-deguitarra-

5 thoughts on “Wisata kuliner dan Museum Lampung (Part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s