Bertualang di Lampung

Selamat maleeem!

Malem ini agak beda dengan malem-malem sebelomnya, karena saat ini gw ngeblog dari Lampung (terus pamer). Dan inilah pengalaman gw yang kampungan dimana gw baru pertama kali menginjakkan kaki di pulau Sumatra.

Jadi, selama 2 bulan ini (pertengahan September sampe pertengahan november), gw dengan temen-temen kantor berdelapan ditugaskan untuk membandingkan container terminal di pelabuhan-pelabuhan cabang kelas I dengan container terminal yang sudah maju, yaitu di JICT dan Koja. Di container terminal cabang (atau biasa disebut TPK – Terminal Peti Kemas), kami diperintah untuk menganalisis dan mengimplementasikan apa yang udah didapet dari magang selama 6 bulan di JICT dan Koja.

Setelah diacak-acak antara Lampung, Palembang, dan Pontianak, terpilihlah gw, Vonny, dan Fifi untuk pergi ke Pelabuhan Panjang yang ada di Lampung! Hal pertama yang terlintas di benak gw setelah gw dapet Lampung adalah :

“GW HARUS KE WAYKAMBAS!” (dengan diiringi backsound gajah)

Gw berangkat hari Selasa siang dan udah janjian dengan orang HRD di kantor Panjang. Perjalanan Jakarta ke Lampung cepet banget, cuma setengah jam. Bahkan lebih cepet daripada perjalanan dari kosan gw di Priuk ke Mangga Dua. Sesampai di Bandara Radin Inten II, gw pun menelpon lagi si bapak HRD Lampung.

“Halo Bapak, saya Anin yang dari kantor pusat. Bapak udah di bandara?”

“Hoo iya mbak Anin, saya udah di bandara, di pintu exit ya”

“Hoo gitu. Bapak pake baju apa?”

“Saya pake seragam, mbak..”

“Hoo gitu.. Seragam Pelindo?” (Gw bingung kenapa gw mengeluarkan pertanyaan ini)

“Iya mbak, seragam Pelindo” (Gw yakin, dalam hati si Bapak pasti menjerit dalam hati : LO PIKIR GW PAKE SERAGAM SPBU?”

Setelah ketemu dengan bapak HRD, kami dianter dan diajak ngobrol tentang Lampung. Oiya, sebelum naik mobil, seperti biasa hasrat kebancian foto gw mulai merekah. Gw pun keasikan foto-foto di bandara, maklum baru pertama kali kesini. Ehek ehek.

Welcome to Lampung

Welcome to Lampung

Bersama gajah

Bersama gajah

Di dalem mobil, kita banyak cerita tentang Lampung. Pelabuhannya gimana, komoditi utamanya apa, bahasanya apa, makanan khasnya apa, oleh-olehnya apa, kalo ke Palembang berapa lama, Bapak punya obeng nggak, kalo nomer telpon ada apa nggak, dan lain-lain (dua pertanyaan terakhir jangan dianggap serius). Jarak dari bandara ke pelabuhan Panjang cukup jauh. Kita harus menempuh daerah Natar, lalu Tanjung Karang, lalu Bandar Lampung, baru sampe Panjang. Selama perjalanan, gw sempet memfoto fenomena-fenomena Lampung. Hmm..

1. Mahkota apakah itu?

Kebanyakan gedung di Lampung selalu memasang lambang mahkota kuning (yang dipake oleh wanita saat berpakaian adat Lampung). Usut punya usut, semua instansi pemerintah harus memasang lambang mahkota itu di Lampung. Tapi setelah gw perhatiin, bahkan gw nemu beberapa minimarket juga memasang lambang mahkota di depan tokonya.

Ini dia mahkotanya

Ini dia mahkotanya

Mahkota lagii

Mahkota lagii

Mahkota dimana-mana!

Mahkota dimana-mana!

Hayo cari mahkotanyaa

Hayo cari mahkotanyaa

Bahkan tenda kecil pun pake mahkota

Bahkan tenda kecil pun pake mahkota

Saya dihantui oleh mahkota

Saya dihantui oleh mahkota

Gw jadi teringat waktu beberapa bulan yang lalu ketika gw tinggal di Pontianak selama sebulan. Disana, mereka juga cukup menjunjung adat istiadat mereka dengan memberikan sentuhan corak khas Kalimantan pada pagar kantor, atap rumah masih dibentuk seperti rumah Panjang (rumah adat Kalimantan Barat), dan lainnya. Sedangkan di Jakarta, Bandung, ataupun Surabaya, kayaknya udah jarang ditemuin bangunan yang menunjukkan adat istiadat yang kental dari daerah tersebut.

2. Fenomena Angkot

Biasanya, dimana-mana gw selalu menyebutkan “Kiri” atau “Stop” setiap mau turun dari angkot. Pernah sih sekali gw tereak “HINGI” gara-gara lagi sakit gigi. Kalo di Lampung, gw cukup terperangah dengan cara mereka memberhentikan angkot, yaitu dengan berteriak  “MINGGIR !!!”

*agak tegang kalo mau nyetop angkot*

3. Jangan nyebut mau ke “Pantai” atau “Pemandangan”. Pokoknya jangan.

Anda mau berwisata ke Pantai? Dan ingin menikmati pemandangan di pantai? Dan akhirnya Anda meminta kepada supir taksi :

“Pak, antar saya ke pantai dong. Mau pemandangan..”

Maka, niat wisata Anda niscaya akan menjadi suram! Karena ternyata, pantai atau pemandangan adalah istilah (atau nama daerah?) untuk (maaf) pelacur. Jadi, kalo mau ke pantai, sebut aja “Pak, saya mau ke laut”.

4. Airnya asin

Di kamar hotel, gw dikasih air minum (bukan kemasan). Setelah gw coba, rasanya asin. Gw pun ke kamar mandi untuk kencing. Namun bukan tentang kencing yang mau gw ceritain.

Ketika gw sikat gigi, air yang dikumur juga berasa asin. Ternyata emang airnya berasa asin karena dari laut. Gw nggak tau gimana keadaan air di bagian tengah kota, mungkin ini karena daerah gw adalah di Panjang yang dekat dengan laut, bukan berada tepat di kota. Jadi gw sempet tegang kalo lagi pesen es teh manis di tempat makan. Firasat gw selalu mengatakan bahwa itu adalah es teh asin.

5. Jalan berbukit-bukit dan banyak kebun sawit

Selama di perjalanan dari bandara menuju kantor pelabuhan, bapak HRD banyak cerita tentang tempat-tempat yang dilewatin, seperti :

” Tau Kangen Band kan? Pasti tau doong”

*hening*

“Itu, si Andika tu asalnya dari daerah sini..”

*bulu kuduk berdiri*

“Kalo drummernya Hijau Daun, itu rumahnya belok kiri sini. Kakaknya temenku itu..”

“Kalo rumah Artalita, tuuu di bukit situ yang besar, keliatan nggak? Itu dia rumahnya..”

Dan sampailah di sekeliling kami terdapat kebun sawit. Akhirnya dengan rasa belas kasihan terutama terhadap gw yang terdengar jelas bisik-bisik dengan suara parau ke Vonny “von, gw pengen fotooooo”, akhirnya kami pun turun dan foto bentar di kebun sawit.

Kebun sawit

Kebun sawit

Ada bukit di tengah kota

Ada bukit di tengah kota

Sesampai di pelabuhan, kami cukup kaget karena kantornya bagus dibanding kantor cabang Tanjung Priuk maupun Pontianak! Kantornya terlihat lagi dibangun dan furniture2 diganti dengan konsep ruangan minimalis.

Kantor TPK Pelabuhan Panjang. Kantor cabangnya beda lagi, belom sempet gw foto.

Kantor TPK Pelabuhan Panjang. Kantor cabangnya beda lagi, belom sempet gw foto.

Muka fifi pun kalah dengan furniture di sekitarnya

Muka fifi pun kalah dengan furniture di sekitarnya

Lapangan penumpukkan container dilihat dari kantor TPK

Lapangan penumpukkan container dilihat dari kantor TPK

Bukit belakang sekolah. Eh, bukit belakang kantor.

Bukit belakang sekolah. Eh, bukit belakang kantor.

6. Fenomena Suseno

Jadi, temen gw yang berinisial Frz, kesurupan sama suatu kripik pisang yang ada di Lampung. Kripik pisang aneka rasa adalah oleh-oleh yang paling khas dari Lampung. Berikut adalah kata-kata yang dibilang oleh di Frz:

” Nin, lo mau ke Lampung ya?? Pokoknya gw titip kripik pisang rasa coklat, keju, sama susu yang merknya SUSENO ya! Itu enak banget Nin, kayak dilempar dari surga!”

Dan tak dinyana, di suatu minimarket deket hotel, gw menemukan SUSENO !! Awalnya, gw berpikir bahwa sampul dari bungkus suseno ini bergambar Bapak-bapak dengan kumis tebal. Pokoknya gw ngebayangin Suseno banget deh. Ternyata, Suseno bergambar seekor panda yang unyu. Tapi gw berniat untuk beli oleh-oleh di pusat oleh-oleh, bukan di minimarket supaya pilihannya lebih banyak.

Oiya, ada 1 fenomena lagi yang paling bikin gw geli tiap mandi. Ini dia fenomenanya :

INI BUKAN SHOWER! INI KERAN YANG DIPASANG DI ATAS!

INI BUKAN SHOWER! INI KERAN YANG DIPASANG DI ATAS!

Tapi hotel sederhana yang gw tempatin cukup oke sih. Walaupun sederhana, tapi pelayanannya cukup memuaskan kayak di hotel-hotel pada umumnya. Tiap hari kamar dibersihin, dapet sarapan, dan kamarnya juga enak.

Kamar gw dan vonny

Kamar gw dan vonny

Ada kuda vonny lagi bbm

Ada kuda vonny lagi bbm

Begitulah fenomena-fenomena yang gw temukan selama dua hari di Lampung. Semoga di hari-hari ke depan gw nemu fenomena lain yang lebih seru.

Salam,

-deguitarra-

9 thoughts on “Bertualang di Lampung

  1. huaa jeeeng,,,pengen bisa nulis yang terstruktur gitu kayak cara km nge blog,,hauhahaha..gw msh suka ngasal nih cara nge blognya,,hehe,, btw cerita lampungnya udah..kok gadget barunya belom?!! hehehehehe..yuk2,,kita sering2 update blog yaaaa!!! am gonna miss uuuuuuuu jeeeeng :*

  2. Eeeeeeeh ini nggak terstruktur jeeeng, pokoknya ceritain aja tergantung alur yang lo mau buat, alur maju atau mundur atau maju mundur, huahahaa…
    Eeeeh sahabar nggak diceritain kalo yang ituuu, hihiihi
    Sama2 jeeng, kita harus sering update blog ya, i’m gonna miss you too jeng adis :*

  3. Enak euy, kerja sambil jalan-jalan!😆

    Nah, itu hotel dari foto kelihatan bagus. Cukuplah untuk dibuat tidur.:mrgreen:

    Enakan mana mandi pake shower atau pake keran macam itu? Hahaha…😆

    Ada kuda vonny lagi bbm

    Lucu deh, saya ketawa…😆

    • Huahaa iya soop, jalan2 itu salah satu kelebihannya, tapi nggak seenak yang dibayangkan kok😀.

      Nggak enak mandi pake keran kayak gituuu, geli gimana gitu rasanya, huehehehhe.

  4. hehehe..aku tau kamu…..u sring ber 3 kan? yg satu cewe kurus pake jilbab ama cowok? liat cowok gemuk yg suka nongkrong di musholla pelindo??? bukan penampakan lohh…aku fery ….lam kenal yaaa…

  5. hehehe jd tau nih nama kamu….mau kenalan kamu malah udah cabut dari panjang..hiks..kapan nih dateng ke lampung lg nin???…aku sring liat kamu pas di pelindo panjang kan….aku cowo gemuk yg suka godain kamu itu lohhh…..di musholla ….tau kan ???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s