I’m a snake ladder player, without a dice.

Malam !

Beberapa bulan belakangan ini, minat gw dalam membaca buku tiba-tiba cukup meningkat. Yang biasanya tiap malem gw ngedit foto, nonton film, atau buka-buka internet, sekarang seringnya gw abiskan dengan membaca. Baca buku santai, serius, ataupun santai tapi nggak santai (seperti baca novelnya dee yang pake bahasa sastra), yang penting judulnya ‘membaca’ dan gw mendapatkan sesuatu dari buku itu. Nah sekarang gw sedang baca buku karangannya Indra Herlambang yang judulnya Kicau Kacau. Btw, makasih buat adis yang udah minjemin buku ini ke gw, horeee..

Jadi, buku kicau kacau ini adalah kumpulan artikel yang pernah ditulis oleh indra saat dia dulu pernah jadi penulis di majalah2. Tiap chapternya ada cuplikan tweetnya yang rada berhubungan dengan isi dari chapter tersebut. Menurut gw, isi buku ini adalah pemikiran2 seorang indra tentang suatu hal yang muncul di kehidupan sehari-hari dengan gaya bicara slengekan, walaupun ada beberapa kalimat yang bikin gw ‘jleb’ gara-gara pilihan katanya yang brilliant!

Dan beginilah gw kalo abis nonton film atau baca buku, pasti sempat kebawa dengan pemikiran buku itu, walaupun cuma beberapa hari aja sih. Gw suka cerita ke temen gw tentang buku apa yang lagi gw baca dan dia pernah nasihatin “ati-ati deh kalo baca buku. Ntar kedoktrin loh”. Hmm, kalo kedoktrin ke hal yang positif nggak apa2 sih menurut gw.

Oiya, gara2 baca salah satu chapter di buku ini (kyaaaa, apakah gw sedang terdoktrin??), gw jadi berpikir tentang hidup gw. Ada kata-kata sederhana indra yang sempet ngena, seperti :

Akankah setiap langkah kaki itu benar-benar berarti? Akankah ada langkah kaki yang nanti saya sesali? Dari sekian banyak langkah yang dibuat, berapa yang dilakukan dengan kesadaran penuh akan segala konsekuensi di belakangnya? Berapa yang dilakukan dalam pengaruh emosi atau nafsu atau keinginan pribadi yang membuat buta?

Begitu baca tu paragraf, pikiran gw langsung melayang kemana-mana. Tentang apa yang udah gw perbuat selama ini. Tentang keputusan-keputusan yang udah gw tetapkan. Tentang hidup gw sekarang. Tentang hidup gw di masa depan. Tentang temen gw yang udah suksesnya luar biasa (yang gajinya sebulan kalo gw itung sama kayak gaji gw selama 8 bulan). Tentang temen gw yang pergaulannya udah cukup beda dari yang dulu dan memilih jalannya sendiri. Tentang kakak gw yang udah menikah dan sekarang udah pake jilbab – dan adek gw menyusul abis lebaran – dan gw bahkan belum kepikiran sama sekali. Tentang umur gw yang makin hari makin tua. Tentang target-target hidup gw yang semuanya belom tercapai. Tentang perintah Tuhan yang belom sepenuhnya gw jalanin. Dan seterusnya.. dan seterusnya..

Oke! Gw sadar bahwa hidup gw sekarang emang lagi di persimpangan yang penuh kebingungan (ditinjau dari beberapa aspek). Yang jelas, gw sekarang sedang menyusun rencana untuk merubah nasib gw menjadi manusia yang gw cita-citakan. Gw harus meminimalisir kesalahan langkah yang gw perbuat dalam hidup ini.

Yap. Gw sekarang sedang bermain ular tangga. Tapi gw nggak pake dadu untuk ngejalaninnya karena gw bisa pilih sendiri apa yang gw mau. Kalo nggak hati-hati, ya bisa jatoh. Kalo bener, bisa naik ke tangga yang lebih tinggi.

I’m a snake ladder player, without a dice.

Tapi sekarang gw lagi berhenti bermain. Gw sedang bingung. Gw butuh waktu berpikir untuk keputusan yang benar di masa depan.

Salam,

-deguitarra

 

5 thoughts on “I’m a snake ladder player, without a dice.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s